Minggu, 03 Januari 2010

Baju hijau part 5 (to cileungsi)

Singkatnya kebersamaan, ceria yang dirasakan, kepuasan yang didapatkan, sungguh sebuah anugerah yang tak terhingga, diusia yang tergolong muda, kesempurnaan dalam hidup telah di dapatkannya, tinggal ia menghiasinya dengan rasa syukur yang tak terhingga.
Sebuah keindahan yang didapatkan dari sedikitnya waktu yang diperlukan, akan lebih terasa memang, jika lebih panjang, mungkin ada kebosanan yang timbul dari konsekwensi seringnya berìnteraksi, layaknya makanan yang terasa lebih nikmat jika kurang apalagi diperebutkan, hal yang sama juga terjadi pada kehidupan, rasa muak yang timbul akan tercipta jika hidup kita terasa konstan, maka diperlukan berbagai perasaan di dalamnya, walaupun beberapa sebenarnya kita tidak inginkan, ingat, kita hanya aktor yang telah disekenariokan, tinggal improvisasi kita dalam kehidupan sehari-hari agar hidup ini bermakna, jadi jangan merasa hidupmu biasa saja, karena setiap orang adalah luar biasa.
Nasehat yang timbul dari dalam diri dan secara tiba2 ada, adalah sebuah cerminan, bahwa sesungguhnya setiap hati manusia mempunyai kesadaran yang tinggi, untuk mengetahui hakikat sebenarnya dari sebuah kebenaran, namun sering manusia mengacuhkannya, seolah ia gangguan yang hanya menghalangi nafsunya tuk terus berjalan.
Selepas maghrib, saat masih tersisa cahaya kemerahan di barat langit, Yanto merapikan tas hitamnya, tas yang didapatkan dari perusahaannya, atas keberhasilan jobsitenya memenangkan best maintenance, tas yang selalu dibawanya dengan penuh rasa bangga. Setelah yakin apa2 saja yang diperlukannya telah berada di dalam tasnya, ia pun mulai merapikan dirinya dan apa yang akan dikenakannya.
Ada sedikit kesedihan pada air mukanya yang ia lihat sendiri saat bercermin, namun ia telah membulatkan tekad, ia harus jadi pemenang dari sebuah pertarungan yang memperebutkan kehormatan diri, sebagai karyawan juga sebagai manusia, ia tak ingin kalah sebelum mencoba, ia ingin membuktikan ia juga bisa.
Kembali mencoba terseyum, tuk mengiringi langkah kaki yang tak ingin pergi, berusaha menghibur putrinya agar mengerti tugas yang harus di emban ayahnya, dan ia beruntung memiliki keluarga yang setegar batu karang, tak ada tangis kesedihan dan memang itu yang diharapkan, agar setiap langkah jadi terasa ringan.
Yanto pun berangkat, menuju cileungsi, sebuah tempat yang merupakan training centre dari perusahaannya bekerja, sekitar 60 km dari tanjung priok dan sebanyak 3x ia harus menaiki berbagai angkutan umun tuk tiba disana.
Terminal tanjung priok, masih saja berdebu dan kumuh, langit sudah mulai gelap, namun semakin pekat udara karena bercampurnya berbagai sisa pembakaran yang tak sempurna itu, dipaksa dimuntahkan dari knalpot yang nyaring dan bising, teringat Yanto akan berbagai kenangan masa silam, terminal menjadi saksi sebagian perjalanan hidupnya (baca kisah "nasi bungkus")
Lama bus yang ingin ia tumpangi tak kunjung berangkat, P89, Tg. Priok-Blok M, rencananya ia akan turun di uki cawang, tapi ia mengurungkan niatnya naik P89, karena agaknya msh lama bus itu berangkat, terpaksa naik P.43, Tg. priok-cililitan, lewat uki juga, tapi tidak lewat tol, jadi otomatis perjalanan menuju uki jadi lebih lama.
Yanto duduk dikursi kanan tengah, lurus dgn pintu yang berada di sebelah kirinya, bus ex jepang, masih terlihat dari beberapa tanda baca dan petunjuk di dalam kabin, seorang ibu gemuk yang menjadi kernetnya meminta uang bayaran, cukup dengan 3000 perak saja, sudah bisa menikmati perjalanan di bawah jalur tol Ir. Wiyoto Wiyono, mulai dari jalan Yos sudarso hingga halim.
Aroma keringat dan lelah, menghiasi indra penciuman, dikala lalu lalang berbagai macam manusia yang naik dan turun dari bis itu, jarak yang tak begitu jauh terasa lama, kala bus harus selalu berhenti baik di halte yang berada sepanjang jalan itu ataupun disembarang tempat, dimana penumpang akan turun dan naik.
Rasa di perut sebenarnya sudah mulai tak karuan, akibat pola makan darì kemarin yang tak beres, efeknya, seperti ada baling2 blender jus yang menari2 di usus besarnya, namun ia masih bisa bertahan.
Perjalanan yang seolah tiada akhir, tetapi memang tetap harus berakhir.
Uki, seperti sebuah persimpangan dari pembuluh darah ke berbagai bagian tubuh, berbagai jalur utara, timur, dan selatan bertemu di sini, menciptakan kawasan yang padat dengan berbagai macam angkutan dari banyak jurusan. Yanto turun di sana untuk melanjutkan perjalanannya, ketika malam sudah merayap kelam, sebuah suzuki elf berwarna merah magenta dengan nomor jurusan 89, cawang-cileungsi yang Yanto cari, dapat, namun sudah penuh sesak, dipaksa harus berangkat, Yanto menyelinap di sela2 tubuh yang nampaknya tak rela bersentuhan dan membuat ruang semakin sempit. Terpojok menghadap kebelakang, tidak menyisakan ruang sama sekali sehingga kaki sulit bernafas, udara malam yang seharusnya dingin berubah pengap, karena tiap penumpang memperebutkan oksigen yang persediaannya terbatas di dalam sana, sesak, namun mau apa lagi.
Perjuangan belum berakhir, ini masih sebuah awal, jangan menyerah, jangan dulu kalah.
Lapar yang tercipta membawa Yanto tuk mampir ke warung nasi goreng, sesaat setelah sampai di simpang 4 cileungsi, namun kenyang yang di harapkan datang, malah jadi bumerang, sakit perutnya makin tak tertahankan. Mencoba menerobos kemacetan dengan berjalan, dan saat mulai lengang baru ia naik angkot menuju kawasan industri menara permai, tempat yang akan dituju.
Keadaan telah berubah, setelah dua tahun lebih ia terakhir meninggalkan cileungsi untuk mutasì ke kalimantan sana, ia tak tahu entah lupa, tak ada ojek di depan kawasan tuk mengantarkannya ke dalam sana, terpaksa ia berjalan kaki dari depan kawasan ke dalam , karena memang Pama cile, terletak di pojok dalam sebelah kiri kawasan, sekitar 20 menit jalan kaki dari depan.
Dalam keremangan, mencoba mengingat kembali berbagai kenangan dua tahun yang lalu, saat ia bertugas di sana, lumayan lama, hampir satu setengah tahun ia membuat unit2 scrap pama menjadi seolah-olah baru untuk di jual ke singapura dalam berbagai lelang yang diadakan beberapa kali tiap tahunnya. Unit2 yang sudah tidak produktif lagi, direkondisi sehingga layak jual.
Tak terasa berbagai kenangan mengantarkannya ke depan pintu gerbang, berharap masih di kenali oleh beberapa orang security, dan memang demikian. "wah mas Yanto, lama tidak ketemu, dalam rangka apa nih ke sini lagi?" begitulah basa-basi pembuka percakapan yang membuat Yanto sedikit nyaman, ia jawab seperlunya, karena ia tak ingin terjebak dalam percakapan yang panjang, ia lelah dan ingin segera memanjakan tubuhnya diatas pembaringan.
Ia berjalan di tempat ia dulu biasa berjalan, unit2 alat berat dari berbagai jenis dan ukuran, terparkir rapi, menyambut pemandangan. Terus ia berjalan menuju TC (training centre) di ujung jalan, TC yang kini tampak megah, karena ia tahu dua tahun yang lalu semua masih tanah merah, sungguh perubahan yang sulit di percaya, pama cile memang cukup luas sekitar 12 ha, jadi masih banyak ruang memang yang bisa dimanfaatkan.
Mencari informasi, kepada dua orang temannya yang telah tiba sedari sore tadi, ternyata hanya menyisakan satu tempat tidur di barak A4, untung lah tadi dua temannya telah memesan tempat untuk Yanto menginap,karena sebagian yang lain yang datang lebih awal malah tidak kebagian tempat tidur, dan harus rela tidur di lorong2 container yang di jadikan beberapa kamar.
Tak dapat langsung terlelap, karena reaksi kimia didalam tubuh yang tidak stabil, membuat rasa lelah tak mampu menidurkan tubuh dan pikiran, ditambah lagi sakit perut yang dari tadi ditahan, turun naik ranjang, keluar masuk toilet, membuat yang lainpun terganggu nyenyaknya.
Mencoba-coba menerka, dalam sadar dan tidak, kegiatan apa yang akan dijalani esok paginya, mengantarkannya menuju alam mimpi, yang mungkìn langsung ìa lupakan saat tersadar nanti. Sudah memasuki bagian akhir dari sebuah awal kisah yang lebih menantang, untuk di cerìtakan, karena berbagai emosi terlibat di dalamnya, interaksi dengan banyak orang, semakin menyadarkannya bahwa manusia tak bisa hidup sendiri, karena manusia adalah makhluk sosial yang harus tetap berkomunikasi dengan yang lainnya, untuk diterima keberadaanya, untuk di hargaì dan di hormati, sebagai manusia tentunya.
Bersambung....
040110 2215 sl@m
See more stories at, www.slam201080.blogspot.com

Baju hijau part 4 (terbang pulang, sesaat dalam pelukan)

Indahnya angkasa, luas tanpa batas. Awan yang bersusun, tersenyum beriringan, menyanyikan senandung yang terbawa angin kerinduan. Yanto menyaksikan keajaiban alam dari sudut pandang sang rajawali. Jalan, sungai, dan rumah2 yang semakin nampak kecil, menandakan ia terbang semakin tinggi dan tinggi, hingga kini hanya warna kelabu yang memenuhi batas pandang dari jendela pesawat yang ia naiki. Warna kelabu yang semakin gelap dan pekat, meyakinkan dirinya, bahwa cuaca diluar sana kurang bersahabat.
Tiba2 pesawat berguncang cukup keras, saat melewati awan badai, suara pramugari kembali terdengar lewat pengeras suara, menyarankan para penumpang untuk kembali ke tempat duduknya masing2, dan menggunakan sabuk pengaman.
Wajah Yanto semakin pucat, namun ia berusaha tuk menyembunyikannya, mencoba tersenyum walau kecut, ia tak berani memandang keluar sana, beberapa kali pesawat kembali terguncang, bagai mobil yg melewati jalan penuh lubang, tapi ini beda, 30 ribu kaki di atas permukaan laut, cukuplah membuat siapapun beku kedinginan bila diluar sana, dan mungkin tak ada seorang pun yang ingin berada diluar.
Perjalanan menembus udara itu terasa berhari hari, padahal hanya sekitar satu setengah jam saja aslinya, namun dalam ketegangan waktu jadi merayap lambat, ketenangan yang dipaksakan didapatkan dari membaca novel yang dibawanya, menembus waktu, kembali ke jaman kerajaan demak, saat jaka tingkir mencari jalan hidupnya.
Badan pesawat mulai miring, bergantian, kanan dan kiri, hanya sekedar mencari posisi agar tepat dengan landasan yang tinggal beberapa puluh kilometer lagi, namun bagi Yanto, bagai sebuah permainan uji nyali, dan ia hampir merasa dikalahkan, disaat saat semua yang ada didarat semakin mendekat.
Satu hentakan yang nyata, ketika roda2 pesawat dan aspal keras landasan bertemu, saling menyapa, menciptakan putaran yang kencang dan sedikit asap. Pesawat telah mendarat dgn selamat, perlahan dan pasti, laju berkurang, ketika ada mekanisme di kedua sayap yang terkembang, menciptakan efek pengereman.
Syukur alhamdulillah, Yanto bersyukur dalam hati, masih diberikan umur panjang, waktu yang ada kan dipergunakan bertemu dengan orang2 tersayang, walau ia tahu ia hanya memiliki beberapa jam kebersamaan.
Tak perlu menunggu bagasi, Yanto langsung bergegas menuju pintu keluar, yang langsung di kerubungi berbagai orang yang menawarkan jasa angkutan, mulai dari taksi, mobil charteran, sampai ojek motor, namun ia tak perduli, pandangannya lurus kedepan, menuju shelter bis yang kini tampak lebih nyaman.
Resah dan gelisah, bus yang ditunggunya tak kunjung tiba, dah satu jam lebih lehernya terasa panjang, karena tak ingin terlewat satupun bus yang melintas didepannza, "semakin berkurang waktuku kalau begini" berkata ia dalam hati.
Saat bus yang ditunggunya lewat, ia seperti sudah tidak bersemangat untuk menaikinya, dalam perjalanan itu dihabiskannya dengan mendengarkan musik dari headset yang tersambung dari hape nya. Tak membutuhkan waktu lama, ketikam bus jurusan bandara-Tanjung Priok itu tiba di daerah plumpang jakarta utara, Yanto segera turun, kembali puluhan tukang ojek mengerubunginya, bagai semut yang memperebutkan sebutir gula, kembali ia acuhkan, lebih baik melanjutkan perjalanan dengan naik angkot saja, lbh murah.
Sudah tak sabar rasanya, ingin segera melihat sang buah hati tercinta, tuk sekedar pelepas lelah, dan pelepas kerinduan yang tertunda. Anak keduanya, seorang putra, yang lama di idamkanya, telah lahir sebulan yang lalu, hanya berselang 3 hari ketika ia kembali ke kalimantan sana, padahal hampir 2 minggu ia minta ijin pulang tuk menemanì istri tersayang, berharap menyaksikan sebuah keajaiban alam, seperti yang ia lakukan pada putrinya yang pertama, hadir tepat disamping perempuan yang dicintainya, dan memberi semangat agar ada kekuatan lebih dalam proses persalinan itu. Tapi takdir mengatakan lain, mungkin sang putra ingin menunjukan ketegarannya, tak perlu didampingi sang ayah, saat menghirup nafas pertamanya di dunia ini.
Jalan itu semakin dekat, ketika ia mulai melangkahkan kakinya menuju rumah mertuanya, bergemuruh rasa didada, semakin nyata, semakin dekat dengan jarak, semakin kuat ikatan batin terasa.
Disambut oleh kegembiraan putrinya, yang kini sudah berumur 3 tahun lebih, yang langsung melompat ke dalam gendongannya, tak perduli ayahnya belum melepas tas yang berada dipunggung. Penasaran ingin ia segera melihat wajah puteranya. Sang mertua meyarankan Yanto untuk segera cuci muka dan cuci tangan dulu, agar debu dan kotoran yang melekat selama perjalanan, dapat luntur dan terkubur, larut bersama air yang mengalir.
Seolah tak percaya, menyaksikan keajaiban Ilahi, ia terpesona, dengan wajah imut itu, wajah2 baru penghuni bumi, segera ia menggendongnya, ada aliran gelombang yang menyatukan dua jiwa, seolah saling menyapa namun tanpa kata, hanya dapat di sadari oleh hati yang penuh cinta dan kerinduan.
Pangeran telah bertemu dengan rajanya, raja tanpa mahkota, karena kerajaan cinta tak perlu raga, namu begitu luas kekuasaanya, dapat merubah semua rasa yang membelenggu hati dapat dengan mudahnya berubah indah, segala dendam, dengki dan kelelahan jiwa, sìrna oleh sihirnya.
Sebenarnya tak semua rasa dapat terbaca, begitu indah dan menakjubkan tuk diungkapkan, cukuplah pertemuan yang singkat itu memberikan kekuatan bagi Yanto tuk melangkahkan kaki ke depan, menghadapi berbagai halang dan rintang, cukuplah jiwa telah terbersihkan dan terisi semangat tuk menunjukan, bahwa ia bukanlah seorang pecundang, karena ia akan memastikan ia akan menjadi orang yang terakhir tertawa dalam kemenangan
Bersambung....
030110 1814 sl@m
See more stories at www.slam201080.blogspot.com

Selasa, 29 Desember 2009

Baju hijau part 3 (tertunda)

Hampir seharian, banjar baru diselimuti basah, air yang tidak henti2nya terus mengalir, jatuh bebas, tersenyum ikhlas, memulai kembali rentetan sirkulasi, hukum alam yang telah berulang dan terjadi, mulai dari awal penciptaan bumi.
Memandang dengan wajah sayu, Yanto menatap langit dari balik jendela rumah yang dijadikan mess, kelabu, merata, bagai kanvas kosong yang siap di hiasi oleh warna2 indah kehidupan, dari garis2 hingga pola2 yang membentuk alam.
Tercampur menjadi satu, perasaan yang tak menentu, menanti berlanjutnya waktu, diantara sadar dan khayal, tak mungkin diperlambat, tak mungkin dipercepat, biarlah ia berjalan sesuai dengan lintasannya.
Hari itupun tiba, hari dimana ia harus menunaikan kewajibannya, kewajiban seorang karyawan yang harus mematuhi setiap program dari perusahaan, telah tertanam tekad kuat dalam dirinya, walau sempat dikecewakan oleh orang2 yang dihormatinya, namun ia berusaha tegar, dan menerima sebagai bagian dari jalan hidupnya.

Pagi itu, langit kelabu, rintik2 hujan masih setia mengisi ruang pandang kedua matanya. Landasan pacu yang basah dan sedikit tergenang, menandakan hujan sudah dari semalaman, bahkan mungkin sudah beberapa hari ini menyirami bumi.
Yanto berjalan dengan pasti, menuju counter registrasi, tuk menukarkan tiket yang sudah diberi, dengan selembar putih kertas yang bertuliskan bording pass. Tak terlalu banyak antrian pagi ini, yang biasanya memanjang, bertanya dalam hati, "apakah aku kepagian, atau kesiangan?" tanpa bagasi, loket di sebelah kiri dihampiri, disekitarnya, banyak orang dari berbagai negeri, sibuk dengan bawaannya masing2, ada yang membawa tas kecil, juga membawa barang yang hampir menyamai besar lemari, ada2 saja orang di negeri ini, mungkin untuk menghemat dari pada dipaketkan, mending rela membayar kelebihan berat bagasi yang lebih murah dibandingkan dengan jasa paket antar pulau.
"Kali ini kududuk dipojok"ia berkata dalam hati, saat melihat tiket, dan melihat tulisan 21f, berarti ia duduk di kursi barisan 21 dipojok paling kiri, dekat jendela.
Pesawat dari maskapai penerbangan Batavia yang akan memberangkatkannya menuju kota Jakarta, berjenis Boeing, seri A400, pesawat yg nampaknya sudah mulai uzur.
Satu baris bangku berjumlah 6 buah, dan ada sekitar 30 baris, berarti tinggal dikalikan 6 saja jumlah penumpang yg bisa di angkut, urutan bangku tiap baris dimulai dari pojok yang paling kiri, dengan menggunakan huruf A sampai dengan F.
Yanto membayar pjp2u, atau pajak penerbangan sebesar 20 ribu rupiah, juga membayar pajak bandara sebesar 3000 rupiah. Ia lanjutkan menuju ruang tunggu keberangkatan dengan menaiki eskalator, telah sering Yanto mengunjungi bandara ini, bandara yang berada di propinsi kalimantan selatan, tidak terlalu besar dibandingkan dengan bandara Soetta di Jakarta. Yanto tak langsung menuju ruang keberangkatan, namun ia belokan langkahnya ke arah kiri, menuju toilet yang tepat berada di sebelah Banjar cafe.
Lega rasanya mengeluarkan sisa2 metabolisme dari dalam tubuh, sisa yang memang harus dibuang, karena tidak berguna lagi berada lama2 di dalam tubuh, malah menjadikan penyakit saja.
Yanto menunggu sebentar, duduk di ruang tunggu, memandangi sekitar, di sekelilingnya berapa kios dan tempat makan menghiasi pojok2 ruang, semerbak bau masakan menyergapnya, menyadarkannya, membuat bunyi aneh didalam perutnya tercipta, seakan ada makhluk yang tak kasat mata di dalamnya. Terpaksa ia mengajak damai makhluk didalam perutnya, dan menjanjikan akan ia berikan makanan yang enak siang nanti, Yanto berbisik2 dengan hatinya, agar mereka yg berteriak dalam perutnya tak mendengarnya, biarlah ia tahan lapar ini sampai siang, sampai ia tiba di rumah dan disambut oleh keluarga tercinta, ia harus menekan pengeluaran yang ada, dana yg tersisa tidak banyak lagi, "biarlah nanti ku beli sesuatu yang lebih berguna untuk keperluanku" Yanto berkata dalam hati.
"kepada penumpang batavia tujuan Jakarta, di harap masuk melalui pintu 2" suara wanita yang mungkin saja cantik, membuyarkan lamunannya tentang makanan, segera ia masuk ke ruang tunggu dan menuju pintu 2, mengikuti petunjuk yang baru saja diberikan.
Tas yang di bawa kembali di scan dengan x-ray tuk kedua kalinya, agak mempercepat langkahnya, ia melewati pintu 2, agar tak keburu tersalip oleh orang lain, ia ingin menjadi orang yang pertama sampai di kabìn pesawat, sehingga mudah tuk berjalan di lorongnya, dan menaruh tas ditempatnya, lebih leluasa saat keadaan masih lengang.
Yanto sebenarnya tidak sendirian di tugaskan untuk training susbintal, ada dua orang teman yang berangkat bersamanya, Iqin dan Sumar, yang masih satu departemen dengannya.
"kursi 21f, berarti aku harus lewat pintu belakang" Yanto berkata dalam hati, dan seolah memandu ke dua rekannya tuk mengikutinya. Mereka memenuhi kursi nomor 21 dari d hingga f, dan Yanto duduk dekat jendela, sekitar 10 menit kemudian semua penumpang nampak telah berada di tempat duduknya masing2, hanya beberapa orang saja yang baru datang dan merapikan bawaannya di tempat yang telah di sediakan tepat di atas tempat duduk para penumpang, cukup menghemat ruang memang.
Yanto mengetik sms kepada istrinya, memberitahu pesawatnya akan segera berangkat, dan meminta doa agar tetap selamat, lalu ia pun mematikan hpnya, ia tak ingin menjadi penyebab kesalahan tekhnis bila ada satu atau lebih instrumen navigasi yang terganggu akibat pancaran gelombang radio dari hpnya yang masih menyala.
Pesawat mulai bergerak, mundur perlahan, keluar dari area parkir, para pramugari sibuk mendemonstrasikan cara2 keselamatan bila terjadi kecelakaan, gerakan2 yang diulang2, entah mungkin ribuan, sehingga mereka telah hapal apa yang harus dilakukan.
Yanto tampak enggan memperhatikan, mungkin bosan, karena telah puluhan kali ia telah melihat gerakan2 yang sama, kata2 yang sama, tanpa ada perubahan yang berarti. Ia malah mulai membuka kembali novel epos tentang perjalanan hidup seorang Jaka tingkir, yang memang belum selesai di bacanya.
Sesekali ia melihat keluar jendela di sisi kanannya, tampak basah dan licin, lintasan dari aspal pilihan itu berkilat, keraguan yang sempat muncul, dapatkan besi raksasa ini terbang?
Posisi telah mantap, pesawat telah berada diujung landasan pacu, wajah Yanto mulai pucat, walau tak ingin ia menampakkannya, semakin hari ia semakin takut terbang, andai bisa memilih, ia lebih senang naik mobil saja, namun tak mungkin, jarak Banjarmasin-Jakarta ratusan kilo meter jauhnya, yang bisa dilakukannya hanya berdoa, pasrah, dan tak sadar, genggaman pada lengan kursi menjadi lebih kuat, mungkin mampu membuat penyok tempat fanta yang terbuat dari kaleng yang sudah tak ada isinya.
Deru mesin pesawat yang tiba2 saja mengoyak gendang telinga, memberikan dorongan awal, pesawat bergerak kedepan, menyamai kecepatan F1, tubuh Yanto terhempas kebelakang, melekat erat tak terpisahkan dengan kursi yang kurang empuk itu, maklum kelas ekonomi. Ingin terpejam, namun penasaran, dan tetap melihat keluar sana. Aneh, setengah perjalanan di lintasan, kok tiba2 raungan mesin menjadi pelan, dan laju pesawatpun berkurang, kepanikan mulai timbul, ada apakah gerangan, dengan kecepatan yang berkurang ini, tak mungkin pesawat dapat terangkat ke udara.
Tiba2 rem pesawat di aktifkan, sayap2 bermekaran, menahan udara di depan, pesawatpun menjadì perlahan, berputar kembali setelah mencapai ujung landasan satunya lagi, apakah yang terjadi? Apakah take off akan diulang lagi?
Terdengar suara seorang pramugari lewat pengeras suara, memberitahukan pesawat mengalami gangguan tekhnis, dan para penumpang harus kembali berada di ruang tunggu bandara, sementara pesawat di perbaiki.
Tegang bercampur lega, saat kembali menuju ruang tunggu, rasa lelah dan letih dipermainkan keadaan, menambah garis2 ketuaan di wajahnya, entah membuatnya semakin dewasa, atau malah menambah beban hidupnya. Rentetan kejadian yang membutuhkan kesabaran yang extra untuk menghadapinya, tertunda berangkat menuju Jakarta, berkurang pula waktu yang tersedia bertemu keluarga tercinta. Masih banyak kah stok kesabaran dalam hatinya? Karena kisah berikutnya akan semakin menggerogoti jiwa2 yang lemah.
Bersambung....
291209 0611 sL@m
See more stories at,www. slam201080.blogspot.com

Sabtu, 26 Desember 2009

Baju hijau part 2 (hujan dan dendam)

Banjarbaru, 35 km sebelah tenggara banjarmasin, malam itu jalanan agak lengang, saat mulai memasuki kota intan, martapura hingga batas kota, hujan turun dengan lebatnya, membuat penduduk yang berjumlah 123.973 orang (2000) enggan keluar rumah, hanya beberapa mobìl dan motor yang pengendaranya memakai ponco yg berani menghadapi basahnya jalan.
Yanto memandang keluar jendela bis yang mengantarkannya dari arah tambang, lebih dari 2 jam, panas sudah terasa tempat duduk yang rela di himpit sedari tadi olehnya, pegal sudah mulai dari ujung sendi sampai pergelangan kaki,
"sudah hampir sampai" katanya dalam hati. Lampu hias kota menari, seolah berlari mundur kebelakang, saat laju bis menerobos tiap genangan.
Lapar dan letih, mengiringì setia menemani, hadir disaat tak ada lagi indah dihati, yang dipenuhi berbagai rasa curiga yang mengintai tiap2 kesadaran diri.
Bis berhenti sesaat di simpang empat, menurunkan beberapa penumpang yang langsung berlari mencari perlindungan agar tak kuyup terkena amukan hujan, perlahan dan pasti, tugu yg masih dlm tahap renovasi semakin jauh terlihat, tertinggal tak mampu mengejar.
Hujan yang tidak mengenal lelah membuat enggan para penumpang tuk keluar, padahal telah parkir manis bis yang mereka tumpangi, namun Yanto tak mau menunggu lebih lama, ia memberanikan diri keluar, merelakan sebagian pakaian atasnya basah, menuju rumah yang sekaligus dijadikan base camp dan office, bagi peredaran tiket orang2 yang akan cuti, juga peredaran surat2, dokumen dan barang, dari dan keluar tambang.
Yanto langsung menayakan tiketnya untuk keberangkatanya esok kepada seorang petugas security yang merangkap sebagai petugas pembagi tiket pesawat orang2 yang akan pergi meninggalkan borneo, entah untuk cuti atau training, bahkan untuk orang yg tak kembali lagi.
"wah... sepertinya belum ada mas tiket buat pian, coba saya cek lagi" wajah Yanto mulai menunjukan kecemasan, rasa lelah tergantikan dengan ketegangan. "betul mas belum ada, coba pian hubungi admnya". Makin parah kecemasan yang melanda.
Tiba2 ada seorang pria yang berbicara, "sampeyan yang mau ikut susbintal ya?" Yanto menjawab, "betul". "tiket sampeyan belum ada, karena memang sampeyan tidak berangkat besok, tapi tanggal 23 lusa" sontak seluruh bagian tubuh Yanto tak bisa menerima hal ini, terutama pikirannya. "kok bisa begitu mas" tanya Yanto, agak sedikit emosi, "kemarin informasi dari adm saya berangkat tanggal 22, terus ko jadi berubah, dan tak ada yang memberi tahu saya, tahu begini kan saya tidak turun hari ini." Dengan santainya pria yang mengaku yang mengurusi tiket ini berkata, "ini kan sesuai st tugas sampeyan, mulai dari tanggal 23 november sampai 23 desember, jadi kita mesan tiketnya dìsesuaikan dengan st yang ada" Yanto bertanya, dengan muka penuh harap,"apa tak bisa dimajuin tiketnya jadi tanggal 22 mas?" "wah gak bisa, repot ngurus deklarasinya nanti"
Menahan kekecewaan dalam hati, merasa dipermainkan oleh orang2 atas, Yanto mencoba pasrah dan menerima, padahal ia telah berencana, esok akan mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya yang kedua, seorang putra yang telah lama didamba, jika ia berangkat tanggal 23, ia hanya mempunyai waktu beberapa jam saja, yang dapat dipergunakan untuk bertemu dengan keluarganya, sebelum masuk kawah candra dimuka.
Bingung mau melakukan apa seharian di mess, akhirnya hanya di habiskan membaca novel epos tentang perjalanan kehidupan seorang Jaka tingkir, mulai dari dilahirkan sampai diangkat menjadi raja.
Salah satu keuntungan dari hobi membaca, dapat menyulap waktu menjadi maju dengan cepatnya.
Ia merasa banyak mengecewakan orang disana, terutama istrinya, yang tadinya berharap dapat berkumpul walau hanya semalam, namun akhirnya tak bisa, karena sikap orang2 yang tidak punya komitmen, dan hanya bisa mengorbankan orang lain, yang dianggap memang harus menjadi korban, komunikasi yang ada, belum dapat dikatakan layak, tak ada rasa peduli, apalagi kasihan, mungkn malah rasa dendam yang mulai di tabur, akibat ego yang menyesatkan, berkuasa namun semu, ingat jabatan adalah amanat, yang harus dipertanggung jawabkan di akherat, janganlah menjadikan yang lain teraniaya tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Mencoba bermimpi, mencoba mengitari kota banjar baru yang hanya 371,30 km persegi. Walau hanya dalam khayal, namun sudah tertangkap keindahan2 yang tercipta dari tiap lukisan di jiwa, mencoba menghibur hati yang kecewa, dan mengecewakan, haruskah ini jadi ujian? Haruskah dendam ini padam?
Bersambung....
SL@m
See more stories at, www.slam20180.blogspot.com

Baju hijau part 1 (awal yang tidak menyenangkan)

"Kamu berangkat bintalsik yah, nanti tanggal 21 pagi" kata salah seorang gl, sesaat sesampainya di work shop, "berarti besok sore aku harus sudah turun dong bos" Yanto, menanyakan, karena memang mendadak apa yang diinformasikannya tadi. Berarti ini hari terakhir Yanto masuk kerja, kebetulan saat itu ia masuk malam.
"Tidak terlalu mengejutkan bagiku, kalau aku yang diberangkatkan untuk menjalani sebuah program dari perusahaan, karena memang semua karyawan harus di ikut sertakan, dalam suatu pelatihan, yang akan mengajarkan berbagai kedisiplinan dan sebagainya. Apalagi, sebenarnya aku seharusnya sudah berangkat ikut angkatan sebelumnya pada bulan september kemarin, namun karena saat itu berbarengan dengan prediksi kelahiran anakku yang kedua, maka ku meminta ijin, agar keberangkatanku itu ditunda." begitulah kira2, Yanto berkata dalam hati, sebelum ia menyantap makanannya yang dibawanya dari kantìn.
Padahal ada kisah unik tersendiri, saat menanti kehadiran anaknya yang ke dua itu, manusia boleh berencana, tapi, tetap Allah yang menentukan. Saat ia pulang selama hampir dua minggu lebih, tak kunjung juga yang kuharapkan terjadi, tuk mendampingi istrinya bersalin. Malah saat waktunya habis, dan ia harus kembali ke dunia tambang, 2 hari kemudian, anaknya menghirup nafas pertamanya di dunia ini. Senang bercampur sedih, senang karena anak kedua Yanto lahir tak kekurangan suatu apapun, sedih, karena ia tak dapat menyaksikan proses kelahirannya. Untung saja, ia mendapatkan seorang istri yang seteguh batu karang.

Yanto menghabiskan nasi yang dibungkus darì kantin dengan tidak berselera. Ia mulai memikirkan rencana2 yang tiba2 saja berubah, sebenarnya ia akan kembali cuti, diakhir november ini, banyak hal yang akan dilakukan, namun tampaknya, semua itu harus ditunda, sampai semua program ini selesai dilaksanakan. Yanto bekerja malam itu dengan pikiran yang melayang-layang, memikirkan memanfaatkan waktu yang singkat untuk apa dipergunakan, kalau memang jadi hari sabtu pagi ia berangkat,"ku punya waktu hampir 2 hari tuk bersama keluargaku?" ia berkata dalam hatì, karena ia melihat di jadwal programnya br dimulai tanggal 23.
Esok paginya, Yanto mencoba bersikap biasa, pulang dari kerja, ia mencoba terlelap, dan hanya bisa tertidur sampai jam 10 saja. Yanto sebenarnya bingung, "siapa yang harus ku hubungi? untuk sekedar konfirmasi," tanyanya dalam hati, karena semua serba mendadak, ia merasa, mereka2 pada belum siap, dan ternyata memang demikian.
Mencoba menghubungi berbagai pihak yg dinilai berkompeten, namun hanya kebingungan yang didapat, informasi yang simpang siur makin mengesalkan hatinya, seolah ia sebuah bola yang dengan mudahnya di permainkan, ditendang kesana dan kemari, tak banyak yang bisa dilakukan hanya mengumpat dalam hati.
Dua hari yang tertunda, dari rencana yang pertama yang di beritahu padanya, sehingga gagal acara yang seharusnya dapat diselenggarakan, tuk sekedar merayakan keselamatan anaknya yang 40 hari silam telah lahir.
Dalam perjalanan menuju arah kota, diiringi dengan derasnya hujan, yanto mengusap kaca bis di samping kanannya, tuk sekedas memperjelas pandangan ke arah luar sana, rumput yang basah, air yang menetes dari sela2 daun akasia, jalanan yang becek, dan genangan yang sesekali tergilas roda karet yang tak mengenal lelah, berputar, terus saja berputar.
Bus yang serasa laju, seolah rem nya telah blong, membuat setiap orang didalamnya memasang wajah berak, cemas dan penuh harap agar dapat selamat.
Bapak sopir yang memacu bisnya laksana seorang pembalap F1, entah mungkin itu memang cita2nya.
Awal perjalanan yang menegangkan, dari sebuah kisah yang penuh bumbu kehidupan, semua rasa tercampur menjadi satu, cukup untuk membuat dewasa seseorang, semua pengalaman ke depan akan merubah banyak pandangan, walaupun tak akan pernah bisa merubah kepribadian.
Waktu yang ada terasa singkat saat dalam kebersamaan, namun terasa lama saat dalam siksaan, namun yang pasti, waktu akan selalu terus berjalan. Seorang teman berkata, "yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, karena sedetik pun telah berlalu, ia tak dapat kembali lagi" jadi temanku semua, hiasilah waktumu dengan perjuangan dan pengorbanan, agar tertoreh indah nantinya di buku kehidupan masing2 orang.
Bersambung.....
Sl@m
See more stories at www.slam201080.blogspot.com