Selasa, 29 Desember 2009

Baju hijau part 3 (tertunda)

Hampir seharian, banjar baru diselimuti basah, air yang tidak henti2nya terus mengalir, jatuh bebas, tersenyum ikhlas, memulai kembali rentetan sirkulasi, hukum alam yang telah berulang dan terjadi, mulai dari awal penciptaan bumi.
Memandang dengan wajah sayu, Yanto menatap langit dari balik jendela rumah yang dijadikan mess, kelabu, merata, bagai kanvas kosong yang siap di hiasi oleh warna2 indah kehidupan, dari garis2 hingga pola2 yang membentuk alam.
Tercampur menjadi satu, perasaan yang tak menentu, menanti berlanjutnya waktu, diantara sadar dan khayal, tak mungkin diperlambat, tak mungkin dipercepat, biarlah ia berjalan sesuai dengan lintasannya.
Hari itupun tiba, hari dimana ia harus menunaikan kewajibannya, kewajiban seorang karyawan yang harus mematuhi setiap program dari perusahaan, telah tertanam tekad kuat dalam dirinya, walau sempat dikecewakan oleh orang2 yang dihormatinya, namun ia berusaha tegar, dan menerima sebagai bagian dari jalan hidupnya.

Pagi itu, langit kelabu, rintik2 hujan masih setia mengisi ruang pandang kedua matanya. Landasan pacu yang basah dan sedikit tergenang, menandakan hujan sudah dari semalaman, bahkan mungkin sudah beberapa hari ini menyirami bumi.
Yanto berjalan dengan pasti, menuju counter registrasi, tuk menukarkan tiket yang sudah diberi, dengan selembar putih kertas yang bertuliskan bording pass. Tak terlalu banyak antrian pagi ini, yang biasanya memanjang, bertanya dalam hati, "apakah aku kepagian, atau kesiangan?" tanpa bagasi, loket di sebelah kiri dihampiri, disekitarnya, banyak orang dari berbagai negeri, sibuk dengan bawaannya masing2, ada yang membawa tas kecil, juga membawa barang yang hampir menyamai besar lemari, ada2 saja orang di negeri ini, mungkin untuk menghemat dari pada dipaketkan, mending rela membayar kelebihan berat bagasi yang lebih murah dibandingkan dengan jasa paket antar pulau.
"Kali ini kududuk dipojok"ia berkata dalam hati, saat melihat tiket, dan melihat tulisan 21f, berarti ia duduk di kursi barisan 21 dipojok paling kiri, dekat jendela.
Pesawat dari maskapai penerbangan Batavia yang akan memberangkatkannya menuju kota Jakarta, berjenis Boeing, seri A400, pesawat yg nampaknya sudah mulai uzur.
Satu baris bangku berjumlah 6 buah, dan ada sekitar 30 baris, berarti tinggal dikalikan 6 saja jumlah penumpang yg bisa di angkut, urutan bangku tiap baris dimulai dari pojok yang paling kiri, dengan menggunakan huruf A sampai dengan F.
Yanto membayar pjp2u, atau pajak penerbangan sebesar 20 ribu rupiah, juga membayar pajak bandara sebesar 3000 rupiah. Ia lanjutkan menuju ruang tunggu keberangkatan dengan menaiki eskalator, telah sering Yanto mengunjungi bandara ini, bandara yang berada di propinsi kalimantan selatan, tidak terlalu besar dibandingkan dengan bandara Soetta di Jakarta. Yanto tak langsung menuju ruang keberangkatan, namun ia belokan langkahnya ke arah kiri, menuju toilet yang tepat berada di sebelah Banjar cafe.
Lega rasanya mengeluarkan sisa2 metabolisme dari dalam tubuh, sisa yang memang harus dibuang, karena tidak berguna lagi berada lama2 di dalam tubuh, malah menjadikan penyakit saja.
Yanto menunggu sebentar, duduk di ruang tunggu, memandangi sekitar, di sekelilingnya berapa kios dan tempat makan menghiasi pojok2 ruang, semerbak bau masakan menyergapnya, menyadarkannya, membuat bunyi aneh didalam perutnya tercipta, seakan ada makhluk yang tak kasat mata di dalamnya. Terpaksa ia mengajak damai makhluk didalam perutnya, dan menjanjikan akan ia berikan makanan yang enak siang nanti, Yanto berbisik2 dengan hatinya, agar mereka yg berteriak dalam perutnya tak mendengarnya, biarlah ia tahan lapar ini sampai siang, sampai ia tiba di rumah dan disambut oleh keluarga tercinta, ia harus menekan pengeluaran yang ada, dana yg tersisa tidak banyak lagi, "biarlah nanti ku beli sesuatu yang lebih berguna untuk keperluanku" Yanto berkata dalam hati.
"kepada penumpang batavia tujuan Jakarta, di harap masuk melalui pintu 2" suara wanita yang mungkin saja cantik, membuyarkan lamunannya tentang makanan, segera ia masuk ke ruang tunggu dan menuju pintu 2, mengikuti petunjuk yang baru saja diberikan.
Tas yang di bawa kembali di scan dengan x-ray tuk kedua kalinya, agak mempercepat langkahnya, ia melewati pintu 2, agar tak keburu tersalip oleh orang lain, ia ingin menjadi orang yang pertama sampai di kabìn pesawat, sehingga mudah tuk berjalan di lorongnya, dan menaruh tas ditempatnya, lebih leluasa saat keadaan masih lengang.
Yanto sebenarnya tidak sendirian di tugaskan untuk training susbintal, ada dua orang teman yang berangkat bersamanya, Iqin dan Sumar, yang masih satu departemen dengannya.
"kursi 21f, berarti aku harus lewat pintu belakang" Yanto berkata dalam hati, dan seolah memandu ke dua rekannya tuk mengikutinya. Mereka memenuhi kursi nomor 21 dari d hingga f, dan Yanto duduk dekat jendela, sekitar 10 menit kemudian semua penumpang nampak telah berada di tempat duduknya masing2, hanya beberapa orang saja yang baru datang dan merapikan bawaannya di tempat yang telah di sediakan tepat di atas tempat duduk para penumpang, cukup menghemat ruang memang.
Yanto mengetik sms kepada istrinya, memberitahu pesawatnya akan segera berangkat, dan meminta doa agar tetap selamat, lalu ia pun mematikan hpnya, ia tak ingin menjadi penyebab kesalahan tekhnis bila ada satu atau lebih instrumen navigasi yang terganggu akibat pancaran gelombang radio dari hpnya yang masih menyala.
Pesawat mulai bergerak, mundur perlahan, keluar dari area parkir, para pramugari sibuk mendemonstrasikan cara2 keselamatan bila terjadi kecelakaan, gerakan2 yang diulang2, entah mungkin ribuan, sehingga mereka telah hapal apa yang harus dilakukan.
Yanto tampak enggan memperhatikan, mungkin bosan, karena telah puluhan kali ia telah melihat gerakan2 yang sama, kata2 yang sama, tanpa ada perubahan yang berarti. Ia malah mulai membuka kembali novel epos tentang perjalanan hidup seorang Jaka tingkir, yang memang belum selesai di bacanya.
Sesekali ia melihat keluar jendela di sisi kanannya, tampak basah dan licin, lintasan dari aspal pilihan itu berkilat, keraguan yang sempat muncul, dapatkan besi raksasa ini terbang?
Posisi telah mantap, pesawat telah berada diujung landasan pacu, wajah Yanto mulai pucat, walau tak ingin ia menampakkannya, semakin hari ia semakin takut terbang, andai bisa memilih, ia lebih senang naik mobil saja, namun tak mungkin, jarak Banjarmasin-Jakarta ratusan kilo meter jauhnya, yang bisa dilakukannya hanya berdoa, pasrah, dan tak sadar, genggaman pada lengan kursi menjadi lebih kuat, mungkin mampu membuat penyok tempat fanta yang terbuat dari kaleng yang sudah tak ada isinya.
Deru mesin pesawat yang tiba2 saja mengoyak gendang telinga, memberikan dorongan awal, pesawat bergerak kedepan, menyamai kecepatan F1, tubuh Yanto terhempas kebelakang, melekat erat tak terpisahkan dengan kursi yang kurang empuk itu, maklum kelas ekonomi. Ingin terpejam, namun penasaran, dan tetap melihat keluar sana. Aneh, setengah perjalanan di lintasan, kok tiba2 raungan mesin menjadi pelan, dan laju pesawatpun berkurang, kepanikan mulai timbul, ada apakah gerangan, dengan kecepatan yang berkurang ini, tak mungkin pesawat dapat terangkat ke udara.
Tiba2 rem pesawat di aktifkan, sayap2 bermekaran, menahan udara di depan, pesawatpun menjadì perlahan, berputar kembali setelah mencapai ujung landasan satunya lagi, apakah yang terjadi? Apakah take off akan diulang lagi?
Terdengar suara seorang pramugari lewat pengeras suara, memberitahukan pesawat mengalami gangguan tekhnis, dan para penumpang harus kembali berada di ruang tunggu bandara, sementara pesawat di perbaiki.
Tegang bercampur lega, saat kembali menuju ruang tunggu, rasa lelah dan letih dipermainkan keadaan, menambah garis2 ketuaan di wajahnya, entah membuatnya semakin dewasa, atau malah menambah beban hidupnya. Rentetan kejadian yang membutuhkan kesabaran yang extra untuk menghadapinya, tertunda berangkat menuju Jakarta, berkurang pula waktu yang tersedia bertemu keluarga tercinta. Masih banyak kah stok kesabaran dalam hatinya? Karena kisah berikutnya akan semakin menggerogoti jiwa2 yang lemah.
Bersambung....
291209 0611 sL@m
See more stories at,www. slam201080.blogspot.com

Sabtu, 26 Desember 2009

Baju hijau part 2 (hujan dan dendam)

Banjarbaru, 35 km sebelah tenggara banjarmasin, malam itu jalanan agak lengang, saat mulai memasuki kota intan, martapura hingga batas kota, hujan turun dengan lebatnya, membuat penduduk yang berjumlah 123.973 orang (2000) enggan keluar rumah, hanya beberapa mobìl dan motor yang pengendaranya memakai ponco yg berani menghadapi basahnya jalan.
Yanto memandang keluar jendela bis yang mengantarkannya dari arah tambang, lebih dari 2 jam, panas sudah terasa tempat duduk yang rela di himpit sedari tadi olehnya, pegal sudah mulai dari ujung sendi sampai pergelangan kaki,
"sudah hampir sampai" katanya dalam hati. Lampu hias kota menari, seolah berlari mundur kebelakang, saat laju bis menerobos tiap genangan.
Lapar dan letih, mengiringì setia menemani, hadir disaat tak ada lagi indah dihati, yang dipenuhi berbagai rasa curiga yang mengintai tiap2 kesadaran diri.
Bis berhenti sesaat di simpang empat, menurunkan beberapa penumpang yang langsung berlari mencari perlindungan agar tak kuyup terkena amukan hujan, perlahan dan pasti, tugu yg masih dlm tahap renovasi semakin jauh terlihat, tertinggal tak mampu mengejar.
Hujan yang tidak mengenal lelah membuat enggan para penumpang tuk keluar, padahal telah parkir manis bis yang mereka tumpangi, namun Yanto tak mau menunggu lebih lama, ia memberanikan diri keluar, merelakan sebagian pakaian atasnya basah, menuju rumah yang sekaligus dijadikan base camp dan office, bagi peredaran tiket orang2 yang akan cuti, juga peredaran surat2, dokumen dan barang, dari dan keluar tambang.
Yanto langsung menayakan tiketnya untuk keberangkatanya esok kepada seorang petugas security yang merangkap sebagai petugas pembagi tiket pesawat orang2 yang akan pergi meninggalkan borneo, entah untuk cuti atau training, bahkan untuk orang yg tak kembali lagi.
"wah... sepertinya belum ada mas tiket buat pian, coba saya cek lagi" wajah Yanto mulai menunjukan kecemasan, rasa lelah tergantikan dengan ketegangan. "betul mas belum ada, coba pian hubungi admnya". Makin parah kecemasan yang melanda.
Tiba2 ada seorang pria yang berbicara, "sampeyan yang mau ikut susbintal ya?" Yanto menjawab, "betul". "tiket sampeyan belum ada, karena memang sampeyan tidak berangkat besok, tapi tanggal 23 lusa" sontak seluruh bagian tubuh Yanto tak bisa menerima hal ini, terutama pikirannya. "kok bisa begitu mas" tanya Yanto, agak sedikit emosi, "kemarin informasi dari adm saya berangkat tanggal 22, terus ko jadi berubah, dan tak ada yang memberi tahu saya, tahu begini kan saya tidak turun hari ini." Dengan santainya pria yang mengaku yang mengurusi tiket ini berkata, "ini kan sesuai st tugas sampeyan, mulai dari tanggal 23 november sampai 23 desember, jadi kita mesan tiketnya dìsesuaikan dengan st yang ada" Yanto bertanya, dengan muka penuh harap,"apa tak bisa dimajuin tiketnya jadi tanggal 22 mas?" "wah gak bisa, repot ngurus deklarasinya nanti"
Menahan kekecewaan dalam hati, merasa dipermainkan oleh orang2 atas, Yanto mencoba pasrah dan menerima, padahal ia telah berencana, esok akan mengadakan syukuran atas kelahiran anaknya yang kedua, seorang putra yang telah lama didamba, jika ia berangkat tanggal 23, ia hanya mempunyai waktu beberapa jam saja, yang dapat dipergunakan untuk bertemu dengan keluarganya, sebelum masuk kawah candra dimuka.
Bingung mau melakukan apa seharian di mess, akhirnya hanya di habiskan membaca novel epos tentang perjalanan kehidupan seorang Jaka tingkir, mulai dari dilahirkan sampai diangkat menjadi raja.
Salah satu keuntungan dari hobi membaca, dapat menyulap waktu menjadi maju dengan cepatnya.
Ia merasa banyak mengecewakan orang disana, terutama istrinya, yang tadinya berharap dapat berkumpul walau hanya semalam, namun akhirnya tak bisa, karena sikap orang2 yang tidak punya komitmen, dan hanya bisa mengorbankan orang lain, yang dianggap memang harus menjadi korban, komunikasi yang ada, belum dapat dikatakan layak, tak ada rasa peduli, apalagi kasihan, mungkn malah rasa dendam yang mulai di tabur, akibat ego yang menyesatkan, berkuasa namun semu, ingat jabatan adalah amanat, yang harus dipertanggung jawabkan di akherat, janganlah menjadikan yang lain teraniaya tanpa sedikitpun merasa bersalah.
Mencoba bermimpi, mencoba mengitari kota banjar baru yang hanya 371,30 km persegi. Walau hanya dalam khayal, namun sudah tertangkap keindahan2 yang tercipta dari tiap lukisan di jiwa, mencoba menghibur hati yang kecewa, dan mengecewakan, haruskah ini jadi ujian? Haruskah dendam ini padam?
Bersambung....
SL@m
See more stories at, www.slam20180.blogspot.com

Baju hijau part 1 (awal yang tidak menyenangkan)

"Kamu berangkat bintalsik yah, nanti tanggal 21 pagi" kata salah seorang gl, sesaat sesampainya di work shop, "berarti besok sore aku harus sudah turun dong bos" Yanto, menanyakan, karena memang mendadak apa yang diinformasikannya tadi. Berarti ini hari terakhir Yanto masuk kerja, kebetulan saat itu ia masuk malam.
"Tidak terlalu mengejutkan bagiku, kalau aku yang diberangkatkan untuk menjalani sebuah program dari perusahaan, karena memang semua karyawan harus di ikut sertakan, dalam suatu pelatihan, yang akan mengajarkan berbagai kedisiplinan dan sebagainya. Apalagi, sebenarnya aku seharusnya sudah berangkat ikut angkatan sebelumnya pada bulan september kemarin, namun karena saat itu berbarengan dengan prediksi kelahiran anakku yang kedua, maka ku meminta ijin, agar keberangkatanku itu ditunda." begitulah kira2, Yanto berkata dalam hati, sebelum ia menyantap makanannya yang dibawanya dari kantìn.
Padahal ada kisah unik tersendiri, saat menanti kehadiran anaknya yang ke dua itu, manusia boleh berencana, tapi, tetap Allah yang menentukan. Saat ia pulang selama hampir dua minggu lebih, tak kunjung juga yang kuharapkan terjadi, tuk mendampingi istrinya bersalin. Malah saat waktunya habis, dan ia harus kembali ke dunia tambang, 2 hari kemudian, anaknya menghirup nafas pertamanya di dunia ini. Senang bercampur sedih, senang karena anak kedua Yanto lahir tak kekurangan suatu apapun, sedih, karena ia tak dapat menyaksikan proses kelahirannya. Untung saja, ia mendapatkan seorang istri yang seteguh batu karang.

Yanto menghabiskan nasi yang dibungkus darì kantin dengan tidak berselera. Ia mulai memikirkan rencana2 yang tiba2 saja berubah, sebenarnya ia akan kembali cuti, diakhir november ini, banyak hal yang akan dilakukan, namun tampaknya, semua itu harus ditunda, sampai semua program ini selesai dilaksanakan. Yanto bekerja malam itu dengan pikiran yang melayang-layang, memikirkan memanfaatkan waktu yang singkat untuk apa dipergunakan, kalau memang jadi hari sabtu pagi ia berangkat,"ku punya waktu hampir 2 hari tuk bersama keluargaku?" ia berkata dalam hatì, karena ia melihat di jadwal programnya br dimulai tanggal 23.
Esok paginya, Yanto mencoba bersikap biasa, pulang dari kerja, ia mencoba terlelap, dan hanya bisa tertidur sampai jam 10 saja. Yanto sebenarnya bingung, "siapa yang harus ku hubungi? untuk sekedar konfirmasi," tanyanya dalam hati, karena semua serba mendadak, ia merasa, mereka2 pada belum siap, dan ternyata memang demikian.
Mencoba menghubungi berbagai pihak yg dinilai berkompeten, namun hanya kebingungan yang didapat, informasi yang simpang siur makin mengesalkan hatinya, seolah ia sebuah bola yang dengan mudahnya di permainkan, ditendang kesana dan kemari, tak banyak yang bisa dilakukan hanya mengumpat dalam hati.
Dua hari yang tertunda, dari rencana yang pertama yang di beritahu padanya, sehingga gagal acara yang seharusnya dapat diselenggarakan, tuk sekedar merayakan keselamatan anaknya yang 40 hari silam telah lahir.
Dalam perjalanan menuju arah kota, diiringi dengan derasnya hujan, yanto mengusap kaca bis di samping kanannya, tuk sekedas memperjelas pandangan ke arah luar sana, rumput yang basah, air yang menetes dari sela2 daun akasia, jalanan yang becek, dan genangan yang sesekali tergilas roda karet yang tak mengenal lelah, berputar, terus saja berputar.
Bus yang serasa laju, seolah rem nya telah blong, membuat setiap orang didalamnya memasang wajah berak, cemas dan penuh harap agar dapat selamat.
Bapak sopir yang memacu bisnya laksana seorang pembalap F1, entah mungkin itu memang cita2nya.
Awal perjalanan yang menegangkan, dari sebuah kisah yang penuh bumbu kehidupan, semua rasa tercampur menjadi satu, cukup untuk membuat dewasa seseorang, semua pengalaman ke depan akan merubah banyak pandangan, walaupun tak akan pernah bisa merubah kepribadian.
Waktu yang ada terasa singkat saat dalam kebersamaan, namun terasa lama saat dalam siksaan, namun yang pasti, waktu akan selalu terus berjalan. Seorang teman berkata, "yang paling jauh dari kita adalah masa lalu, karena sedetik pun telah berlalu, ia tak dapat kembali lagi" jadi temanku semua, hiasilah waktumu dengan perjuangan dan pengorbanan, agar tertoreh indah nantinya di buku kehidupan masing2 orang.
Bersambung.....
Sl@m
See more stories at www.slam201080.blogspot.com

Sabtu, 21 November 2009

Melukis dengan kata

Mungkin aku bukanlah seorang seniman yang hebat, yang dapat menciptakan sebuah karya yang kan dikenang sepanjang masa. Mungkin aku bukanlah seorang yang terkenal, yang dengan mudah nya mendapat berbagai fasilitas yang ada.
Mungkin aku bukanlah seorang pemuka agama, yang dapat mengajak umat menuju kebaikan.
Aku hanyalah seorang penikmat suasana, yang hanya berusaha melukiskannya dengan kata2, membuat ku merasa puas saat menghasilkan sebuah karya, kadang tak percaya ku dapat melakukannya, tak perlu ketenaran, tak perlu limpahan uang, aku sudah senang jika ada orang lain dapat memahami tulisanku, ku tahu masih jauh dari baik, tuk menciptakan sebuah mahakarya yang hebat, namun tak pernah ku berhenti berharap, ku kan selalu belajar menerima segala saran, dan masukan.
Keindahan alam yang terekam dalam sebuah tulisan, kadang lebih indah dari sebuah lukisan, karena setiap orang mempunyai gambarnya masing2, saat memaknainya, begitu universal, fleksibel dan natural, lukisan yang terbuat dari kata2.
Mulailah dari diri sendiri, saat menciptakan sebuah karya, tak perlu segala aturan yang ada, abaikan tema, plot dan alur cerita, tulislah apa yang kita suka, spontan dari hati saat itu juga, maka kau akan kaget dengan apa yang telah kau cipta, begitu alami, jujur, tanpa rekayasa. Sesungguhnya kita adalah seniman bagi dìri kita sendiri. Temukan gaya tulisanmu sendiri, hindari menjadi seorang plagiat, yang hanya mengekor orang yang sudah terkenal, sebarkan kisahmu, kita mungkin tidak tahu siapa yang akan membaca, bisa saja orang yang kan merubah dunia. Jadìkan karyamu sebagai anak2 spiritualmu, biarkan mereka tumbuh dan berkembang, mungkin dalam perjalanan hidupnya ada yang berhasil atau mati, biarkan mereka menemukan penikmatnya masing2.
Aku bukanlah orang yang terkenal, namun siapa tahu ku dapat menjadikan seseorang bisa terkenal.
Aku bukanlah seorang pemuka agama, namun siapa tahu Allah memberikan hidayahnya saat ada seseorang yang tak sengaja membaca sedikit dari tulisanku.
Kembali, tak perlu dengan segala ketenaran itu, ku hanya ingin membuktikan, seni bukanlah hanya milik mereka yang dilimpahi kemewahan, seni adalah milik setiap orang, tak perlu aturan tak perlu pengekangan, naluri manusialah yang nanti berperan.
Untuk anda yang menyukai menulis dan membaca
211109 1823 sl@m

Jumat, 20 November 2009

Nasi bungkus

Malam semakin kelam, namun bunyi riuh ramai berbagai jenis kendaraan, simpang siur lewat di depan mataku, tak dapat dipisahkan lagi, antara asap knalpot dengan asap rokok, yang keluar tiada henti dari bibir2 kering supir angkot, wajah2 kelelahan yang masih saja setia mencari penumpang, demi mengejar setoran.
Sesekali ku melirik ke dalam 2 plastik besar berwarna hitam yang ku bawa, didalamnya masih tersisa sekitar 20 bungkus nasi yang berisi berbagai jenis lauk, ada nasi ayam, nasi ikan, dan nasi ati, diplastik satunya juga masih bertumpuk air minum yang terbungkus dalam plastik bening perempatan, tanganku bergetar, terlihat warna merah melintang di telapaknya, kanan dan kiri, beban yang hampir sama setiap harinya ku bawa. Terpaksa ku menurunkannya sejenak, ku taruh dekat pagar pembatas terminal yang masih saja ramai, ku mengambil nafas dalam2, seakan tak ingin oksigen yang kuhirup diambil orang. Sudah hampir seminggu ini ku tak dapat menyaksikan film2 kesayanganku di RCTI, karena sehabis maghrib ku langsung mengayuh sepedaku tuk membawa beberapa nasi bungkus yang siap dimakan, menggoes sadelnya, ku arahkan menuju terminal yang ramai itu, berharap ada yang mau membeli daganganku, ku rela melakukan ini demi keluargaku, ku harus membantu dengan tenagaku, karena tak ada lagi yang aku punya selain itu.
Sepeda kuparkir ditempat yang aman, dan ku kunci sedemikian rupa agar ia tidak hilang. Tak perlu pelatihan, tak perlu masuk perguruan, yang kuperlukan belajar dari alam, bagaimana sebaik dan sesopan mungkin menjajakan apa yang kubawa, target utamaku sopir2 angkot yang begitu dìsibukan mencari langganan, sehingga tak sempat jalan ke warung makan. Penuh senyum harapan agar mereka mau membeli daganganku, ku mulai menawarkan, berkeliling, berputar-putar di dalam dan luar terminal, pada awalnya aku sangat malu melakukan ini semua, sifatku yang sebenarnya seorang yang pendiam, terasa minder, saat harus berinteraksi dengan banyak orang yang tak ku kenal. Wajah-wajah kasar, memang telah melekat pada masing2 mereka, seolah telah di cap, untuk selamanya menderita, namun, wajah2 kasar itu, nampak seperti tampan dan bercahaya, tentunya bila daganganku dibelinya. Diawal-awal hari ku berjualan nasi bungkus, ku begitu tak menduga, ternyata selalu tanpa sisa, hanya menyisakan plastik kosong bekas wadahnya, ku bawa pulang agar bisa di gunakan lagi setiap harinya. Ku mulai menghitung-hitung, seandainya setiap hari demikian, mungkin lunas semua hutang, hutang yang menyelimuti keluargaku, membuat kehangatanpun berkurang, tenggelam dalam dinginnya berbagai tagihan, bagai menyedot darah pelan2, para lintah darat laknat itu menikmati keringat ayahku, ku bertekad, tuk membunuh semua lintah yang menempel ditubuh.
Tersadar dari lamunanku, ku kembali mengangkat dua plastik besar yang masih berat itu, semakin hari, semakin banyak saja sisa dari daganganku ini, ternyata tìdak seperti para pekerja di perusahaan, orang yang berdagang tak dapat di pastikan, kapan ia untung, kapan ia buntung. Waktu telah setengah jam lewat dari pukul delapan malam, lelah yang tersisa, membuat jalanku semakin gontai, setengah jam lagi, sebelum waktuku habis, karena setengah jam lagi waktu operasi angkot telah berakhir, di gantikan dengan ojek motor dan sepeda.
Stasiun Tanjung Priok, menjadi saksi bisu, yang tak dapat bersaksi, namun ia mengetahui, perjuangan seorang remaja, yang seharusnya mempersiapkan buku, tuk belajar esok paginya, tapi malah disibukan oleh banyak bungkusan, yang di bawa oleh ke dua tangannya, terbungkuk, kadang sesekali tersandung, karena tidak memperhatikan jalan, mata hanya dipergunakan untuk mencari pelanggan.
Kupandang gedung stasiun yang bersebelahan dengan terminal, stasiun dengan arsitektur Belanda kuno, masih kokoh berdiri melawan kejamnya zaman, walau terlihat warna putih catnya yang terkelupas dimakan usia, namun nampak tegar, tersenyum kepadaku, agar mengikuti langkahnya, "kamu harus kuat, kamu harus dapat membuktikan bahwa kamu berarti, berguna bagi orang disekitarmu, walau kenyataanya, kamu harus di cemooh oleh mereka2 yang gila dalam limpahan emas, mereka2 yang disibukkan menghitung hartanya, yang jumlah digitnya tidak muat lagi di dalam kalkulaor buatan cina, biarlah mereka dengan dunianya, biarlah,sesungguhnya mereka tidak akan pernah tahu, nikmatnya benar2 hidup, karena hidup adalah kerja keras, karena hidup adalah berusaha sekuat tenaga, karena hidup adalah perjuangan dan pengorbanan." terima kasih ku ucapkan pada suara yang tiba2 terngiang, begitu dalam makna dari hidup ini, banyak misteri yang menarik yang bisa kita pelajari dari alam, pelajaran yang tak akan didapatkan kala kita senang.
Ku berikan senyum terakhirku pada gedung stasiun itu, dan ia membalasnya, waktuku telah habis, percuma jika ku tetap disini, karena orang2 pun semakin sepi. Ku berjalan menuju sepedaku yang ku parkir di dekat taman, ku kaitkan daganganku di kedua stangnya, dengan tangan yang agak gemetar karena keletihan ku buka gembok rantai dari roda belakang yg ku kaitkan dipagar taman. Dengan sisa tenaga yang ada, ku kayuh pulang, bersama harapanku tuk ku bawa kembali esok harinya. Tak tega membayangkan wajah ibuku saat nanti ku tiba, lelahnya lebih dari lelahku, letihnya lebih dari letihku, ia telah mempersiapkan ini semua, dari bahan mentah, hingga siap di makan, ia juga yang membungkusnya, dan mengiringi kepergianku dengan doa, agar aku di berikan kemudahan dan keselamatan. Kumencoba tersenyum, walau kelihatan kecut, sesaat sesampainya dirumah, inilah saatnya, ketika ku tak mampu menahan air mata, "laki2 seperti apa aku ini, begitu saja cengeng," hatiku mengejekku sendiri. Namun semua perasaan sedih itu menghilang, kala ku dìsambut dengan riang, walau ku tahu hatinya tidak demikian, sesungguhnya ia telah lebih banyak mengunyah asam dariku, ia lebih sering menjilat garam dariku, sehingga telah terbiasa dengan kenyataan pahit ini, jadi sìapa yang menghibur siapa? Aku pun tak tahu.
Ku basuh kedua tangan dan mukaku, tuk menghilangkan segala debu, ku ingin mengadu, ku ingin menangis sejadi-jadinya, hingga hati ini puas." Ya Allah, lindungilah keluargaku, dari berbagai kejahatan, yang nampak dan yang tidak,berikanlah kami rejeki yang berkah, hingga tak perlu Kau pertanyakan lagi saat hari hisab tiba, Amin, ya Rabbal Alamin."

201109 1829 sl@m

see more stories at, www.slam201080.blogspot.com