Sabtu, 21 November 2009

Melukis dengan kata

Mungkin aku bukanlah seorang seniman yang hebat, yang dapat menciptakan sebuah karya yang kan dikenang sepanjang masa. Mungkin aku bukanlah seorang yang terkenal, yang dengan mudah nya mendapat berbagai fasilitas yang ada.
Mungkin aku bukanlah seorang pemuka agama, yang dapat mengajak umat menuju kebaikan.
Aku hanyalah seorang penikmat suasana, yang hanya berusaha melukiskannya dengan kata2, membuat ku merasa puas saat menghasilkan sebuah karya, kadang tak percaya ku dapat melakukannya, tak perlu ketenaran, tak perlu limpahan uang, aku sudah senang jika ada orang lain dapat memahami tulisanku, ku tahu masih jauh dari baik, tuk menciptakan sebuah mahakarya yang hebat, namun tak pernah ku berhenti berharap, ku kan selalu belajar menerima segala saran, dan masukan.
Keindahan alam yang terekam dalam sebuah tulisan, kadang lebih indah dari sebuah lukisan, karena setiap orang mempunyai gambarnya masing2, saat memaknainya, begitu universal, fleksibel dan natural, lukisan yang terbuat dari kata2.
Mulailah dari diri sendiri, saat menciptakan sebuah karya, tak perlu segala aturan yang ada, abaikan tema, plot dan alur cerita, tulislah apa yang kita suka, spontan dari hati saat itu juga, maka kau akan kaget dengan apa yang telah kau cipta, begitu alami, jujur, tanpa rekayasa. Sesungguhnya kita adalah seniman bagi dìri kita sendiri. Temukan gaya tulisanmu sendiri, hindari menjadi seorang plagiat, yang hanya mengekor orang yang sudah terkenal, sebarkan kisahmu, kita mungkin tidak tahu siapa yang akan membaca, bisa saja orang yang kan merubah dunia. Jadìkan karyamu sebagai anak2 spiritualmu, biarkan mereka tumbuh dan berkembang, mungkin dalam perjalanan hidupnya ada yang berhasil atau mati, biarkan mereka menemukan penikmatnya masing2.
Aku bukanlah orang yang terkenal, namun siapa tahu ku dapat menjadikan seseorang bisa terkenal.
Aku bukanlah seorang pemuka agama, namun siapa tahu Allah memberikan hidayahnya saat ada seseorang yang tak sengaja membaca sedikit dari tulisanku.
Kembali, tak perlu dengan segala ketenaran itu, ku hanya ingin membuktikan, seni bukanlah hanya milik mereka yang dilimpahi kemewahan, seni adalah milik setiap orang, tak perlu aturan tak perlu pengekangan, naluri manusialah yang nanti berperan.
Untuk anda yang menyukai menulis dan membaca
211109 1823 sl@m

Jumat, 20 November 2009

Nasi bungkus

Malam semakin kelam, namun bunyi riuh ramai berbagai jenis kendaraan, simpang siur lewat di depan mataku, tak dapat dipisahkan lagi, antara asap knalpot dengan asap rokok, yang keluar tiada henti dari bibir2 kering supir angkot, wajah2 kelelahan yang masih saja setia mencari penumpang, demi mengejar setoran.
Sesekali ku melirik ke dalam 2 plastik besar berwarna hitam yang ku bawa, didalamnya masih tersisa sekitar 20 bungkus nasi yang berisi berbagai jenis lauk, ada nasi ayam, nasi ikan, dan nasi ati, diplastik satunya juga masih bertumpuk air minum yang terbungkus dalam plastik bening perempatan, tanganku bergetar, terlihat warna merah melintang di telapaknya, kanan dan kiri, beban yang hampir sama setiap harinya ku bawa. Terpaksa ku menurunkannya sejenak, ku taruh dekat pagar pembatas terminal yang masih saja ramai, ku mengambil nafas dalam2, seakan tak ingin oksigen yang kuhirup diambil orang. Sudah hampir seminggu ini ku tak dapat menyaksikan film2 kesayanganku di RCTI, karena sehabis maghrib ku langsung mengayuh sepedaku tuk membawa beberapa nasi bungkus yang siap dimakan, menggoes sadelnya, ku arahkan menuju terminal yang ramai itu, berharap ada yang mau membeli daganganku, ku rela melakukan ini demi keluargaku, ku harus membantu dengan tenagaku, karena tak ada lagi yang aku punya selain itu.
Sepeda kuparkir ditempat yang aman, dan ku kunci sedemikian rupa agar ia tidak hilang. Tak perlu pelatihan, tak perlu masuk perguruan, yang kuperlukan belajar dari alam, bagaimana sebaik dan sesopan mungkin menjajakan apa yang kubawa, target utamaku sopir2 angkot yang begitu dìsibukan mencari langganan, sehingga tak sempat jalan ke warung makan. Penuh senyum harapan agar mereka mau membeli daganganku, ku mulai menawarkan, berkeliling, berputar-putar di dalam dan luar terminal, pada awalnya aku sangat malu melakukan ini semua, sifatku yang sebenarnya seorang yang pendiam, terasa minder, saat harus berinteraksi dengan banyak orang yang tak ku kenal. Wajah-wajah kasar, memang telah melekat pada masing2 mereka, seolah telah di cap, untuk selamanya menderita, namun, wajah2 kasar itu, nampak seperti tampan dan bercahaya, tentunya bila daganganku dibelinya. Diawal-awal hari ku berjualan nasi bungkus, ku begitu tak menduga, ternyata selalu tanpa sisa, hanya menyisakan plastik kosong bekas wadahnya, ku bawa pulang agar bisa di gunakan lagi setiap harinya. Ku mulai menghitung-hitung, seandainya setiap hari demikian, mungkin lunas semua hutang, hutang yang menyelimuti keluargaku, membuat kehangatanpun berkurang, tenggelam dalam dinginnya berbagai tagihan, bagai menyedot darah pelan2, para lintah darat laknat itu menikmati keringat ayahku, ku bertekad, tuk membunuh semua lintah yang menempel ditubuh.
Tersadar dari lamunanku, ku kembali mengangkat dua plastik besar yang masih berat itu, semakin hari, semakin banyak saja sisa dari daganganku ini, ternyata tìdak seperti para pekerja di perusahaan, orang yang berdagang tak dapat di pastikan, kapan ia untung, kapan ia buntung. Waktu telah setengah jam lewat dari pukul delapan malam, lelah yang tersisa, membuat jalanku semakin gontai, setengah jam lagi, sebelum waktuku habis, karena setengah jam lagi waktu operasi angkot telah berakhir, di gantikan dengan ojek motor dan sepeda.
Stasiun Tanjung Priok, menjadi saksi bisu, yang tak dapat bersaksi, namun ia mengetahui, perjuangan seorang remaja, yang seharusnya mempersiapkan buku, tuk belajar esok paginya, tapi malah disibukan oleh banyak bungkusan, yang di bawa oleh ke dua tangannya, terbungkuk, kadang sesekali tersandung, karena tidak memperhatikan jalan, mata hanya dipergunakan untuk mencari pelanggan.
Kupandang gedung stasiun yang bersebelahan dengan terminal, stasiun dengan arsitektur Belanda kuno, masih kokoh berdiri melawan kejamnya zaman, walau terlihat warna putih catnya yang terkelupas dimakan usia, namun nampak tegar, tersenyum kepadaku, agar mengikuti langkahnya, "kamu harus kuat, kamu harus dapat membuktikan bahwa kamu berarti, berguna bagi orang disekitarmu, walau kenyataanya, kamu harus di cemooh oleh mereka2 yang gila dalam limpahan emas, mereka2 yang disibukkan menghitung hartanya, yang jumlah digitnya tidak muat lagi di dalam kalkulaor buatan cina, biarlah mereka dengan dunianya, biarlah,sesungguhnya mereka tidak akan pernah tahu, nikmatnya benar2 hidup, karena hidup adalah kerja keras, karena hidup adalah berusaha sekuat tenaga, karena hidup adalah perjuangan dan pengorbanan." terima kasih ku ucapkan pada suara yang tiba2 terngiang, begitu dalam makna dari hidup ini, banyak misteri yang menarik yang bisa kita pelajari dari alam, pelajaran yang tak akan didapatkan kala kita senang.
Ku berikan senyum terakhirku pada gedung stasiun itu, dan ia membalasnya, waktuku telah habis, percuma jika ku tetap disini, karena orang2 pun semakin sepi. Ku berjalan menuju sepedaku yang ku parkir di dekat taman, ku kaitkan daganganku di kedua stangnya, dengan tangan yang agak gemetar karena keletihan ku buka gembok rantai dari roda belakang yg ku kaitkan dipagar taman. Dengan sisa tenaga yang ada, ku kayuh pulang, bersama harapanku tuk ku bawa kembali esok harinya. Tak tega membayangkan wajah ibuku saat nanti ku tiba, lelahnya lebih dari lelahku, letihnya lebih dari letihku, ia telah mempersiapkan ini semua, dari bahan mentah, hingga siap di makan, ia juga yang membungkusnya, dan mengiringi kepergianku dengan doa, agar aku di berikan kemudahan dan keselamatan. Kumencoba tersenyum, walau kelihatan kecut, sesaat sesampainya dirumah, inilah saatnya, ketika ku tak mampu menahan air mata, "laki2 seperti apa aku ini, begitu saja cengeng," hatiku mengejekku sendiri. Namun semua perasaan sedih itu menghilang, kala ku dìsambut dengan riang, walau ku tahu hatinya tidak demikian, sesungguhnya ia telah lebih banyak mengunyah asam dariku, ia lebih sering menjilat garam dariku, sehingga telah terbiasa dengan kenyataan pahit ini, jadi sìapa yang menghibur siapa? Aku pun tak tahu.
Ku basuh kedua tangan dan mukaku, tuk menghilangkan segala debu, ku ingin mengadu, ku ingin menangis sejadi-jadinya, hingga hati ini puas." Ya Allah, lindungilah keluargaku, dari berbagai kejahatan, yang nampak dan yang tidak,berikanlah kami rejeki yang berkah, hingga tak perlu Kau pertanyakan lagi saat hari hisab tiba, Amin, ya Rabbal Alamin."

201109 1829 sl@m

see more stories at, www.slam201080.blogspot.com

DIVONIS PA


Sore itu langit sudah mulai menguning, udara pun semakin terasa sejuk, angin semilir menerobos masuk, kesela-sela kusen pintu, berusaha menyegarkan penghuninya.
Sore yang dinanti-nanti, karena sebentar lagi waktu maghrib tiba, mengapa? yah tak salah lagi karena saat itu memang sudah beberapa hari ini orang berpuasa. Ramadhan bulan penuh berkah, namun disinilah ku berkisah, tentang kejadian dimasa kecilku yang mungkin sedikit terlupa, namun sampai sekarang pun masih agak samar mengingatnya.
Masih disore itu, disebuah perumahan padat di utara kota jakarta, disamping gang2 kecil yang tak lurus, di rumah sederhana itu, masa kecilku banyak kuhabiskan, 9 tahun usiaku, namun sudah mulai beberapa tahun yang lalu ku mampu menjalankan puasa seharian penuh, mungkin hal yang cukup membanggakan, mengingat byk orang dewasa yg bahkan tak sanggup tuk menjalankannya setengah harì saja, karena alasan lelah bekerja. Seperti hari kemarinnya, sore ini ayahku menyalakan kaset yang baru dibelinya kemarin lusa, sebuah kaset yang menyuarakan ayat2 Allah, sebagai pelengkap suasana dan menambah pahala bagi siapa saja yang mendengarnya.
Suara yang menenangkan jiwa, mengalun mengisi tiap ruang di telinga, menggetarkan hati orang2 yang mendengarnya. Awalnya ku ikut mendengarkan lantunan ayat2 suci itu, namun entah mengapa, lama2 malah aku bercanda dengan adikku, 2 tahun usia kami terpaut, biasalah bocah dengan keceriaannya, tak perduli tempat dan suasana, semua merupakan arena bermain baginya. Suara2 yang ditimbulkan dari candaan kami akhirnya mengusik ketenangan ayahku, ia yang lagi khusyu mendengarkan lantunan Al-Quran, merasa terganggu,beliau menyuruh kami untuk diam, dan spontan kamipun terdiam kembali. Namun apa karena terlalu ceria, kamipun bercanda kembali, tak ayal, akhirnya ayahku marah, dan menyuruh kami main diluar saja, ku begitu ketakutan saat itu, belum pernah ayah semarah itu, karena ayahku sebenarnya seorang penyabar, "ya Allah, ampunkanlah dosa ayahku, terimalah amal puasanya, karena marahnya bukan maunya, tapi karena kami anak2nya yang tak pandai mensyukuri nikmatMu"
Akupun bergegas keluar, diikuti oleh adikku, bukan untuk melanjutkan main, tapi malah termenung, seakan menyesali perbuatan kami tadi. Sampai akhirnya maghrib tiba, ku baru berani masuk kedalam rumah, tuk segera membatalkan puasa, sementara air muka ayahku, tidak menandakan ia habis marah, kembali sejuk dan tenang, bagai mata air pegunungan yang menyegarkan.
Keesokan harinya, diwaktu yang sama, menjelang maghrib, ku bermain bersama beberapa orang temanku, kali ini, ku bermain dengan teman2ku yang berada disekitar rumah nenekku, rumahku dan rumah nenekku terpaut hanya 1 gang, katakanlah rumahku di gang 5, sedangkan, rumah nenekku di gang 4, jadi aku mempunyai 2 kelompok teman, dari gang 5 dan gang 4. Gang rumahku merupakan jalan kecil hanya sekitar 2 setengah meter lebarnya, sementara gang rumah nenekku lebih lebar, sekitar 5 meter lebih, sehingga memungkinkan mobil untuk lewat, bahkan, truk sayur dari pasar induk dapat melewatinya juga, karena memang diujung gang itu ada sebuah pasar yang lumayan besar.
Kembali kepermainanku, setelah puas bermain kejar2an, ada teman yang mengusulkan untuk bermain kepasar, akupun ikut serta, dan lupa, kalau sebenarnya aku harus segera pulang, karena maghrib tiba. Sesampainya dipasar temanku mengajak tuk bm mobil, bm istilah ditempatku, yaitu menumpang mobik di bagian belakangnya, paling sering dilakukan pada truk sayur dan mobil box, saat mobil berjalan pelan, anak2 akan mengejar dari belakang, dan naik melompat ke bagian belakang, tangan memegang kuat, kaki mencari pijakan, merasa senang kala berhasil, dan terbawa jalan oleh truk tersebut, untuk turunnya, kami biasanya menunggu saat tikungan, saat truk berjalan lebih pelan, langsung pada berlompatan, mirip ninja di film2 jepang. Sambil menunggu truk yang akan kami bm, aku mengamati keadaan sekitar, dalam hati sempat ragu, tuk meneruskan niat itu. Akhirnya ada truk yang jalan, kami pun berebut berlarian, berlompatan mencari pegangan, ku dapatkan pegangan itu, pijakan kakipun telah mantap menemukan tempatnya, kini tinggal menikmati kesenangan tiada tara, sebagai seorang bocah, entah apa yang ada dipikiranku saat itu, ku hanya bisa menikmati belaian angin saat truk mulai laju, bergetar tangan2 kecil itu, menahan tubuh melawan gravitas maju. Langit mulai menghitam, menyisakan bayang2 yang semakin kelam, lampu jalan tak semuanya benderang, sebagian padam, meninggalkan sayup2 kegelapan. Laju truk yang tiba2 melesat, bagai pesawat yang akan meninggalkan landasan pacu, membuat tubuhku yang tak seberapa besar terhentak, tangan2 yang bergetar semakin hebat akhirnya tak mampu menahan berat tubuhnya sendiri, ditambah daya tolak dari gerak maju yang tiba2 itu. Bagai beribu tangan yang memeluk pinggangku dan menarikku tuk jatuh kebelakang, aku tak tahan, dan tanganku lepas dari pegangannya, melayang terhempas keras ke atas aspal yang kasar, bagian belakang kepalaku mau tak mau membentur dan beradu, kesadaran yang tersisa saat itu hanya keremangan langit disela sela dedaunan pohon nan rindang, tak mampu bergerak, seluruh tubuhku benar2 lumpuh, ku takmengerti, dalam pikiran bocahku berkata, "inikah pintu gerbang kematian?".
Entah berapa lama tubuhku tergeletak begitu saja di jalan, memang pas ditempatku terjatuh suasana agak gelap, sukar bagi orang lain tuk melihat tubuhku. Ku hanya bisa pasrah tak berdaya, saat ada tangan2 yang mengangkat tubuhku lalu menggendongnya, kutak dapat melihat wajahnya, samar dalam kesadaran yang sewaktu-waktu dapat menghilang, direnggut dariku selamanya. Hanya kilasan2 bagai sketsa yang muncul dan menghilang, pandangan2 dari mataku menyaksikan, ku dibawa berjalan, diantarkan kerumah nenekku yang ternyata hanya berjarak seratus meter dari tempat kejadian, selanjutnya ku mendengar teriakan2 dari orang yang kukenal, panik dan berisik, beberapa ada yang mulai menangis, hanya bisa memandang nyalang, tanpa mampu berkata apa2,
"Iyan, kenapa kamu Iyan"? Ingin rasanya ku menjawab pertanyaan itu, namun selain ku tak mampu berkata-kata, akupun tak mengenali siapa yang bertanya. Pikiranku seolah mengambang, melayang, mulai memasuki celah-celah bilik, kadang ku temukan kegelapan, yang mengiasi sejauh mata memandang.
Masih tak mampu menggerakan tubuhku sedikitpun, masih tak mampu membuka mulut, hanya mata yang terbuka, memandang kosong, membuat semakin panik keadaan, kumerasakan, tubuhku ditaruh di sebuah ranjang tua, dari besi yang kokoh, pakaianku di lepas tanpa sisa, entahlah mungkin tuk mencari sumber luka yang membuat keadaanku sedemikian rupa, bau minyak angin, balsem dan keringat, menjadi satu ditubuhku, ada yang mengurut-urut mulai dari kakiku, hingga kepala.
Orang tuaku tiba, ibuku ikutan panik, ayahku tampak diam, namun tak dapat disembunyikan air mukanya yang penuh kecemasan. Dari pada tak karuan, mereka memutuskan, membawa ku ke dokter langganan yang biasa didatangi kala sakit datang, seorang dokter umum, yang membuka praktek tak jauh dari rumah nenekku.
Dinding putih menjadi semakin suram, saat kumelihatnya dari bahu kanan ayahku, kepalaku tergolek lemas diatasnya. Menunggu antrian yang tak begitu panjang, dari berbagai rupa, yang mengisyaratkan kesakitan. Giliranku tiba, pemeriksaan dilakukan pada bagian kepalaku, kemungkinan geger otak menimpa diriku, dokter mengatakan jika dalam 2 hari aku muntah2, maka harus dibawa kerumah sakit untuk di opname.
Kuterlupa bagaimana selanjutnya yang terjadi, karena memang sering hilangnya kesadaranku saat itu. Terakhir yang ku tahu keesokan harinya aku muntah2, sesuai dengan petunjuk dokter, ku dibawa kerumah sakit oleh ke dua orang tuaku, seminggu aku dirawat disana, di rontgen kepalaku tuk memastikan kondisi yang ada.
Pertamakalinya ku dirawat inap di rumah sakit, pertama dan belum pernah lagi sampai sekarang, mudah2an jangan. Masa2 yang tidak mengenakan, terlebih untuk bocah seusiaku, seharusnya aku sedang bermain, berlari dan tertawa riang, bersama dengan teman2ku, kini ku tergolek tak berdaya, menoleh pun berat rasanya, apalagi sampai mengangkat kepala, praktis, berjam-jam posisiku tidak berubah.
Seiring berjalannya waktu, keadaanku berangsur-angsur membaik, berkat do'a dari semua orang, berkat trampilnya para dokter dan perawat, dan yang yang pasti,berkat kemurahan hati Allah SWT. Awal kesembuhanku di tandai dengan permintaanku mau makan nasi padang, jenuh dengan hidangan rumah sakit yang membosankan, ku makan bungkusan coklat itu, kusikat rendang yang masih hangat, walaupun tak mampu kuhabiskan, ku merasa senang, karena melihat senyum ibuku yang setia menungguku, sementara ayahku sedang bekerja.
Dengan bangga ku berjalan, seolah ingin menunjukkan betapa mudahnya melangkah, seperti seorang bayi yg mulai bisa berjalan, aku kesenangan, tanpa kursi roda itu, yah, tak perlu ku menggunakannya lagi, karena kini ku dapat berdiri sendiri. Ku diperbolehkan pulang, setelah melihat kondisi yang ada, dan melihat kantong tentunya, karena bukan murah dirawat berlama-lama disebuah rumah sakit swasta. Berbagai senyuman menyambutku, bagai seorang pahlawan pulang dari medan pertempuran. Ku tak mau langsung berlarian, biarlah setahap demi setahap ku lalu lorong itu dengan berjalan perlahan.

Ejekan demi ejekan, dari beberapa temanku yang lebih tua, yang memang tak dekat, terus mengalir bagai air bah, aku divonis mereka dengan kata2 PA, sebuah istilah untuk mencap seseorang yang mendekati gila, apa karena geger otak ini, ku menderita, mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, entahlah apa memang ada syaraf yang putus, namun ku merasa keadaanku baik2 saja, hanya ada satu keanehan, kepalaku selalu miring ke kanan, ketika berjalan, ibuku selalu membetulkan posisi kepalaku dengan penuh kasih sayang. Entah berapa kali terulang, kepalaku masih saja tengleng, harus aku sendiri yang berusaha tuk normal lagi.
Sebuah kejadian yang menyisakan banyak pelajaran, tentang kasih sayang, tentang kepatuhan, tentang diriku sendiri tuk dikenang dimasa depan. Berbagai ejek dan hinaan, kuhadapi dengan diam, ku buktikan kepada mereka, bahwa otakku lebih hebat dari yang mereka punya, nilai nem ku memungkinkan ku masuk ke smp dan stm favorit, padahal teman 1 gang tempatku berada, tidak bisa mendapatkannya, nah kalo sudah seperti ini, siapa yang sebenarnya PA?

(hanya dari kisah kecil dari masa lalu yang sudah banyak terlupa)
201109 1059 Sl@m

See more stories at: slam201080.blogspot.com

Baju kuning part 5 (lamaran, kala banjir datang)

Hidup memang tak dapat di prediksi, terlalu banyak misteri yang terkandung didalamnya, kadang teori kemungkinan pun tak dapat menyusuri jalannya, apalagi hanya seorang manusia yang berdalih mampu melihat masa depan. Sungguh ternyata sebuah kenikmatan tersendiri kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan sana, kita jadi bersemangat tiap harinya, tuk mengejar apa yang ada di dalam impian kita, coba kita telah mengetahui kita akan jadi orang sukses di masa depan, pasti saat ini kita akan bermalas-malasan, dan tak akan melakukan berbagai perjuangan yang begitu bermakna dalam setiap simpang jalan hidup yang kita tempuh. Seandainya kita tahu kita akan gagal di masa depan, tentunya hidup kita saat ini akan terasa hampa, penuh dengan keputusasaan, sesungguhnya kita saat itu hanya menjadi sesosok mayat yang bernafas.Kadang kita merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian, manusia berlomba- lomba menciptakan mesin waktunya masing2, tuk sekedar mengintip seperti apa mereka dimasa depan, juga mungkin akan memaksa kembali ke masa lalu, tuk memperbaiki kesalahan2 yang ada, walaupun itu mustahil karena memang sejarah tak dapat diubah, andaipun bisa, akan berantakan tatanan kehidupan yang telah ada, seperti yang banyak ku saksikan dalam berbagai film, (butterfly effect, misalnya) banyak hal yang bisa dipelajari, satu masalah bisa teratasi, namun hal itu akan membuat masalah yang baru. Jadi teman, nikmatilah hidupmu saat ini, hadapi setiap masalah yang ada, sambil berfìkir, bahwa itu merupakan sebuah proses menuju dewasa, menuju ke kesempurnaan hidup, walaupun tiada sesempurna Dzatnya.Keindahan masa silam yang terekam dalam pikiran. kumencoba tuk menyusun ulang, walau hanya lewat baris kata2, masih jauh dari kenyataan yang ada, karena kadang ada beberapa hal yang tak bisa dijelaskan dengan kata2, sebuah bahasa universal manusia akan sebuah perasaan yang mungkin telinga tak mampu menangkap gelombangnya, sehingga kitapun tak tahu bagaimana menyampaikannya. Hanya saat hati mendekati bersih, hanya saat kita tak mendengar lagi selain sunyi, maka saat itulah kita dapat mengetahui dan mengerti apa yang terjadi.Begitupun dengan hidupku, banyak hal yang terjadi, banyak sudah yang tak kuingat lagi, entah memang telah hilang, atau memang sengaja kuhapus, karena beberapa kenangan terlalu buruk, dan hanya menjadikan batu pemberat saat ku melangkah kedepan.Jakarta, di penghujung tahun 2001, saat semua nampak basah, oleh guyuran air yang tumpah ruah dari atas langit yang berwarna kelabu. Hampir seharian, hujan tak kunjung berhenti, beberapa kawasan di sekitar tempat tinggalku sudah mulai tergenang banjir, bervariasi, dari hanya beberapa inchi, hingga memenuhi seluruh kaki, aku sendiri disibukan oleh kenyataan, bahwa beberapa barang harus segera dipindahkan ditempat yang aman, beberapa perangkat elektronik harus di ungsikan, karena air mulai mengalir mengisi halaman rumahku, begitu cepat, hingga membuat waktupun terasa singkat.Lelah, keringatpun bercampur dengan tetesan air hujan yang masih setia membasahi bumi, sebuah situasi yang membuatku tambah frustasi, manakala sebelumnya, ku sudah tidak berstatus karyawan lagi, bagi seorang laki2 yang sedang menuju kedewasaan, jadi seorang pengangguran adalah hal yang menyakitkan, ketika seharusnya ku bisa membahagiakan ke dua orang tuaku dan keluargaku, ternyata aku malah menjadi seorang pesakitan, yang tak dapat menerima kenyataan, ternyata aku di pecat, yah walaupun bahasa halusnya habis kontrak, tapi yang pasti, aku tidak lagi memakai seragam warna biru itu. Dan kini, rasa frustasi itu makin menjadi, kala harus menghadapi musibah langganan ini. Banjir, tergenang sudah tak menyisakan tempat kering tuk berpijak, terasa makin membesar, telapak kaki yang hampir seharian terendam air,dingin, kesal dan kelaparan, karena kegiatan memasak, praktis tak dapat dilakukan. Beberapa hari dalam keadaan yang demikian membuatku jadi terbiasa hidup dalam keprihatinan, semua serba terbatas, tak ada kemewahan yang menghibur hati.Kehidupan memang bagai roda yang berputar, tak selamanya kita di satu posisi yang sama, panggilan itu datang, panggilan dari sepupu bapakku yang bekerja di PT United Tractors, dgn posisi sebagai serorang sertifikator, telah lama ia bekerja disana, mungkin dari sekitar tahun 1985, ia mengatakan ada lowongan kerja di sana, dengan posisi sebagai mekanik alat berat, jadi kupikir mengapa tidak mencobanya saja, walau ku tahu, perjalanan ke sana, mungkin agak sedikit terhambat, karena banjir yang belum saat.Sisa2 banjir masih terasa, melihat ke kanan dan kiri jalan, masih banyak rumah yang tergenang, pemandangan yang miris kusaksikan dari bis mayasari bhakti P51, jurusan Tanjung Priok- Pulogadung. Kotaku, dengan predikat sebagai ibukota negara, tetapi banyak hal yang membuat jauh dari bangga ku tinggal di dalamnya, salah satunya ya banjir ini, entahlah mungkin memang telah diwariskan dari beberapa generasi sebelumnya, jakarta memang telah ditakdirkan demikian.Kumelanjutkan perjalanan dari terminal Pulogadung dgn naik angkot menuju jalan raya Bekasi kilometer 22, tempat yang akan ku tuju, sebuah perusahaan besar, sebagai distributor alat berat dari beberapa merk, namun yang paling terkenal adalah merk Komatsu, berbagai jenìs tipe dan alat berat, mulai dari excavator hingga dump truck, pelanggannya biasanya para pengusaha tambang diseluruh nusantara, dengan menguasai hampir 50% pangsa pasar alat berat di seluruh Indonesia, menjadikan PT UT, sebagai leader di bidangnya. Berdiri pada, 13 oktober tahun 1972, waktu itu masih bernama, PT Astra Motor Works, dan pemegang saham terbanyaknya adalah PT Astra International Tbk, berlokasi di jalan raya bekasi km 22, PT UT berdiri di lahan seluas 20ha.Tidak sampai 20 menit, dari terminal Pulogadung ku telah tiba di halaman PT UT, sama dengan sekitarnya, tepat di depannya, air masih menggenang, sehingga menyulitkanku tuk masuk kedalam, mencari beberapa pijakan, agar sepatu yang baru saja kucuci tidak kembali kotor. Ku segera melapor, dan menanyakan letak pak Asdi Suwardi, sepupu bapakku itu bekerja, kepada security yang menjaga pos di pintu gerbang sebelah barat, setelah ku menyerahkan ktp ku tuk ditukar dengan kartu visitor, akupun bergegas menuju lobby, tuk menanyakan lebih lanjut kepada receptionis yang jelita, ternyata tempat sepupu bapakku berada dilantai dua, ia tersenyum melihatku, langsung kucium tangannya, sebagai penghormatan kepada saudara yang lebih tua.Setelah menyerahkan surat lamaran yang ku sìmpan rapih dalam amplop coklat besar, ku segera mohon pamit, tak kuduga, ia langsung mengepalkan uang padaku, mang, mang, dalam hati berkata, "dah diberi info lowongan aja aku sudah senang, ini pake di beri uang sekalian" buat ongkos katanya, ku terima saja sambil tersenyum malu, tak lupa ku mengucapkan terima kasih. Mungkin memang di dunia ini telah diciptakan, orang2 yang jika berbuat baik tidak tanggung2, salah satunya ya mamangku, "salam buat keluarga di rumah yah" ia berkata, sesaat sebelum ku meninggalkan ruangannya. Penuh harap dan keinginan tuk secepatnya di panggil dan dapat segera bekerja di perusahaan itu, karena ku sudah tak tahan lagi dengan status ini, padahal baru sebulan lebih ku jadi pengangguran, namun terasa telah setahun menjalaninya, waktu memang menjadi lambat ketika dalam masa penantian, seolah-olah jarum2 itu malas sekali melangkah.to be continued....201109 0639 sl@mSee more stories, at: www.slam201080.blogspot.com

Jumat, 13 November 2009

Baju kuning part 4 (sabtu malam yang indah)

Kenangan indah sabtu malam yang masih saja terbayang-bayang, sebuah awal dari liku perjalanan yang sangat panjang. Dengan di dampingi dua orang bidadari, tiba juga ku dikeramaian itu, lautan manusia, tempat para muda ceria, berasang-pasangan, saling bergandengan tangan.
Kubertanya, "akan kemana kita?", "gimana kalau kita makan saja dulu?", temanku berkata, akhirnya kucari tempat makan yang tepat, namun semua penuh sesak, beputar-putar diantara barang dagangan kaki lima, ada pakaian, mulai pakaian balita sampai lansia, dari pakaian dalam sampai pakaian luar angkasa, berbagai perlengkapan rumah, mulai lemari, rak buku sampai jendela, segala kebutuhan manusia hampir semua tersedia. Aroma parfum dan peluh menjadi satu, berbagai bau masakan ciri khas dari berbagai daerah, menambah semangatku tuk segera menemukan tempat yang tepat agar makhluk dalam perutku dapat tersenyum senang. Kutemukan juga kursi kosong yang memungkinkan kami bertiga dapat menikmati berbagai jajanan yg ada, dari pada bingung kuputuskan tuk memesan bakso saja, dan yang lainpun sama, berbincang tentang berbagai keadaan, tak terasa semangkuk bakso hampir kosong, menyisakan sedikit kuah berwarna merah kecoklatan dan remah-remah dari berbagai bumbu dan mie kuning. Dilanjutkan dengan menikmati minuman yang menyegarkan, jus alpukat dingin, terlihat dari embun yang mulai berjatuhan ditiap sìsi gelas, berwarna hijau muda dan dihiasi warna putih memanjang yang ternyata susu kental yang sengaja dicampurkan, rasanya? tak usah ditanya, sungguh menyegarkan, entah apa memang karena rasa aslinya, atau karena rasa hatiku yang juga sedang girang, ternyata beginilah rasanya kencan, pantasan banyak orang rela berdesakan demi mendapatkan suasana itu, suasana yang nyaman saat cinta tidak lagi dapat disembunyikan.
Setelah semua merasa puas dengan apa yang disantap, kamipun segera beranjak, berniat sekedar melihat-lihat, kami masuk ke dalam plaza yang tepat disamping kumpulan para pedagang kaki lima yang semakin ramai, ternyata di dalam juga tak kalah ramai, promotion boy berteriak-teriak kearah mix yang dipegangnya, dengan bantuan sound system yang tertata apik, seluruh lantai, mulai dari basement hingga lantai 4 dapat mendengar suaranya, lantang ia berbicara tentang berbagai harga yang dijual murah, diskon besar-besaran apakah memang benar atau cuma tipuan, tapi yang pasti makin banyak orang yang berdatangan menyerbu rak-rak pakaian yang memang telah disediakan. Sempat tertarik dengan tawaran yang ada, namun jadi teringat uang yang tersisa, tak banyak memang ku membawa, maklum tuk memenuhi kebutuhan keluarga, dalam hati berkata, "semoga ke dua bidadari ini tidak banyak meminta". Hampir menunjukan pukul duapuluh satu, ketika angkot terakhir yang kami naiki melaju, didaerahku, angkot memang dibatasi jam operasinya hingga jam sembilan malam, dan akan digantikan oleh ojek motor dan sepeda, tak ketinggalan kadang tukang becak menanti saat itu tiba, berebut mencari penumpang yang tak kebagian angkot yang telah menghilang, harus rela membayar lebih mahal beberapa ribu tuk bisa pulang.
Kuantarkan pulang temannya yang perempuan, dan setelahnya kuantarkan dia pulang, seakan tak ingin waktu tetap berjalan, agar selamanya getaran itu kunikmati, saat berjalan berdua dengannya sungguh tak bisa ku lukiskan, mungkin hanya akan ada gambar kosong yang terpampang, saat itu tiba, ku harus rela ia sendiri menuju rumahnya, ku belum di ijinkan mampir walau hanya sekejap, entah karena malu atau belum siap, ya sudahlah, ku hanya bisa memandang rambut panjangnya dari ujung gang, yang semakìn lama menghilang tertelan gelap remang lampu pelataran, kumendesah sendiri, menyisakan sedikit senyuman yang kunikmati mengiringi ku kembali ke rumahku, akankah ada perjumpaan lagi? bagai telah terkena zat addictive yang membuat aku ketagihan, ternyata rasa ini lebih kuat dari sekedar morfin dan obat penenang, aku benar-benar sakaw, untung saja tak pake meriang, hanya malam itu kulewati dengan mata yang tak mau terpejam, makin kupaksakan makin ia melawan, hanya kembali menimbulkan bayangan2 kejadian tadi bagai film yang diputar ulang, terus dan terus mengisi ruang diantara kesadaran dan khayal, ku sendiri tak tahu mulai kapan ku terlelap, tidur penuh senyum dan sedikit nyelangap.
Minggu pagi ku terbangun, berkata dalam hati, "semalam ku bermimpi nyata sekali" tanpa sebenarnya kutahu bahwa semua itu memang terjadi, lama ku termenung mencoba mengingat kembali, tersadar, cengar-cengir sendiri, sementara belek dan iler yang menempel dipipi terasa wangi kala kucium sendiri, dasar orang yang sedang mabuk kadang bertingkah aneh, lupa diri bahkan tak perduli dgn keadaan sekitar.
Itulah awal kisah cintaku, cinta yang kunikmati sampai hari ini, cinta yang mengiasi hari-hari bagai mimpi indah, walau kadang ada saja prahara, namun semua itu merupakan titian tangga menuju dewasa. Pertama dan terakhir, secara tekhnis ku mempunyai pacar, 5 tahun merupakan suatu masa yang lumayan panjang, 5 tahun tantangan menguji kesetiaan, 2 tahun benar-benar dekat, 3 tahun ku harus merantau ke sebrang pulau sana, namun jodoh sudah ditetapkan, kita hanya berusaha dan menjalankan, apa2 yang telah digariskan.
Sebuah awal kehidupan indah bersama cintaku telah ku ceritakan, banyak lagi sebenarnya yang bisa ku kisahkan, namun berliku dan panjang, nampaknya akan ada judul tersendiri dari kisah cintaku yang seru, terpisah dari cerita baju kuning ini, sengaja aku sedikit membawa cintaku disini, karena ia mempunyai pengaruh penting dalam karir pekerjaanku, ia salah satu motivasi dan semangat besarku dalam beribadah mencari berkah rizki yang melimpah. Di part berikutnya akan ku ceritakan, kisah awal ku memasuki dunia tambang, seru, tegang ada juga yang mengharukan, ok see u at next episode...

to be continued....

131109 1913 sl@m

See more stories at, www.slam201080.blogspot.com