Minggu, 07 Februari 2010

KUMPULAN PUISI DAN SYAIR 2000

PEMBUKAAN

Mungkin hanya inilah yang bisa kupersembahkan
Untuk mengungkapkan semua perasaan
Yang lama tak tersalurkan
Terhimpit oleh rasa segan

Terindah semua yang terucap lewat kata-kata
Saat mulutku tak bisa mewakili diriku untuk bicara
Semoga kuterus bisa berkarya
Hanya untukmu belahan jiwa

Jakarta, 200501

MAHADEWI

Disaat semua terselimuti sepi
Disaat semua menjadi tak berarti
Kau datang bak mentari menyinari
Menyadarkanku dari lelapnya mimpi

Lama kunantikan hadirnya seseorang
Tuk mengisi jiwaku yang kerontang
Hadirmu sungguh membuat indah dunia
Lamanya waktu bukan pengorbanan yang sia-sia

Disaat kumenanti
Mencari jawaban yang pasti
Kau menepis kerguan dihati
Maha Dewi bimbing aku dalam indahnya pelangi

Andai setiap saat kubisa bersamamu
Akan ku berikan setiap sisi dari hatiku
Agar kau tahu yang terjadi didalamnya
Bahwa cinta telah memberikan segalanya
190500

PEMENANG

Pemenang, apakah telah yakin semua sudah dikalahkan.
Pemenang, apakah senang sesaat penuh pujian.
Pemenang, apakah mampu mengulang disuatu saat kemudian.
Pemenang, bukankah semua menginginkannya.
Pemenang, tersakitikah yang jadi pecundang.
Pemenang, mampukah ia menguasai diri di puncak keberhasilan.
Pemenang, apa yang diperlombakan hanyalah kepalsuan.
Pemenang, kapankah aku menjadi seorang pemenang.
Pemenang, semoga sekali saja kata itu tersemat ku sudah senang.
Pemenang, bukan untuk akhir suatu tujuan.
Pemenang, adalah salah satu jalan mencapai kesempurnaan.
Pemenang, adalah yang mengakui ia masih jauh dari keberhasilan.
Pemenang, adalah yang menyadari hidup ini penuh dengan perjuangan.
Pemenang, adalah yang memberi kesempatan pada yang lain untuk ikut merasakan.
Pemenang, adalah yang tak ingin sekitarnya dalam kesedihan.
Pemenang, adalah yang mau saling menasehati dalam kebaikan.
Pemenang, adalah yang sedih bila hanya ia yang merasakan kegembiraan
Dan pemenang, adalah yang selalu terdepan dalam setiap kebaikan.
Sadarlah, kita semua adalah pemenang, dari setiap kesulitan yang kita hadapi.
070210 0407 sL@m

See more, at slam201080.blogspot.com

Baju hijau part 6 (akhirnya gundul juga)

Sebuah sympony alam, bersatu, mencoba berinteraksi dengan manusia2 yang memiliki kesadaran, dan menikmatinya sebagai suguhan gratis bagi jiwa2 kerontang, yang membutuhkan makanan alami langsung dari sumbernya. Menenangkan, saat irama tercipta, dari berbagai nyanyian jangkrik dan katak yang saling bersahutan, harmoni indah pelajaran nada2 alam, yang terekam masuk kedalam telinga dan menyenangkan perasaan. Butuh kesabaran menangkap tiap makna, butuh kejelian lebih, agar setiap percakapan dapat di mengerti, sebuah senandung syukur, dari seluruh makhluk, untuk dipersembahkan pada sang Pencipta, Allah SWT.
Hampir setiap jam Yanto terjaga dari alam bawah sadarnya, dipaksa bangun oleh berbagai zat kimia yang bereaksi tidak teratur dalam tubuhnya, metabolisme yang terganggu dari perubahan pola yang drastis, menyebabkan tubuhnya lemah.
Pagi pertama menjelang, menikmatinya dari dalam kamar yang di isi oleh 10 orang dari berbagai asal jobsite, ada 5 ranjang bertingkat di kamar berukuran 5x5 meter itu, terasa sempit memang, namun masih cukup nyaman, ditambah udara pagi yang masuk dari lubang2 ventilasi yang sengaja di buat banyak, agar sirkulasi udara tidak terhambat, dan dengan mudahnya mengisi tiap sela2 jalur pernafasan.
Pagi pertama, nyaris diabaikan, bagai anak tiri yang dilupakan, tak ada panduan, tak ada pemberitahuan harus apa mereka mengisi kegiatan pagi itu. Yanto enggan mandi, air yang terasa dingin membuatnya mengerenyitkan dahi, "cukuplah ku basuh muka ini saja, dan menggosok gigiku, ku memulai pagi ini" pikir Yanto dalam hati. Saat yang dinanti-nanti, sarapan yang di idamkan, saat memasuki ruang kantin yang begitu luas, sanggup menampung seratus lebih manusia, masih tak ada kekakuan aturan yang mengikatnya, Yanto biasa saja memilih menu yang akan disantapnya. Duduk dekat dengan beberapa teman yang baru dikenalnya, Yanto menikmati sarapan paginya dengan santai.
Tiba2 ada suara tegas berbicara, "Mohon perhatian, kepada senior dapat menyesuaikan. Duduk siaaaap... Graak..! Mengawali makan pagi, berdo'a mulai!"
Seketika Yanto menghentikan makannya, entah karena menghormati, entah karena ingin mempelajari berbagai aturan disana.
"Selesai! Istirahat ditempaaaat... graak!" "selamat makaaaan...! Serentak para siswa OM (operator magang) menyahut berbarengan.
Begitulah salah satu aturan makan yang akan menghiasi waktunya kedepan, aturan yang membuat kebersamaan, namun membutuhkan kesabaran, bagaimana tidak, jika kita yang paling pertama mengambil nasi dan siap dimakan, kita harus menunggu meja panjang itu harus terisi penuh dahulu, baru salah seorang berdiri dan memimpin doa seperti tadi, jadi satu baris meja dapat makan bersama, dan jika kita sedang makan, kemudian ada baris meja di sebelah kita sedang disiapkan, kita harus menghentikan makan kita sejenak, dan ikut berdoa kembali, baru boleh makan lagi setelah ada aba2 "istirahat di tempaaat graak!." dan kita menjawab, "lanjutkan!"
Sungguh bertele-tele dan merepotkan, segala aturan yang berbau militer itu. Namun mau tak mau itu akan menjadi bagian dari keseharian hidupnya satu bulan kedepan.
Mencoba menyatukan raga dan pikiran yang ternyata tak semudah membalik telapak tangan, seringnya wajah keluarga yang terbayang, membuat yanto kadang termenung menyesali mengapa ia terperangkap di sini.
Hari pertama dijalani dgn berbagai kegiatan mulai dari apel pagi, juga ada pelajaran di kelas tentang keselamatan. Siangnya, saat yang dinanti telah tiba, mencukur rambut sampai botak, sampai hampir tak tersisa rambut dikepala, seharusnya sdh dari pagi dilaksanakan kegiatan cukur rambut itu, namun berhubung banyak alat cukur yang rusak, jadi baru bisa dilaksanakan pada siang harinya, karena harus diperbaiki dulu.
Gilirannya tiba, yanto telah membuka bajunya sedari tadi, namun gilirannya br tiba setelah mengantri. Bergetar dan hangat terasa kepala yanto saat alat pencukur dgn teganya menghabisi tiap helai di kepala yanto, sempat beberapa kali tersendat karena tebalnya rambut yang harus rela meninggalkan kepala yanto untuk selamanya.
Selesai, tak percaya yanto memegang kepalanya, hilang, semua rambutnya telah hilang, meninggalkan kepala plontos, "bagaimana tampangku kini" ucap yanto dalam hati. Bergegas akhirnya ia berlari ke kamar mandi untuk membersihkan sisa2 rambut yang banyak mempel pada seluruh tubuhnya. Didepan kaca yanto tertegun melihat wajah asing yang dia sendiri tak tahu siapa itu kalau saja ia tak segera tersadar bahwa itu adalah wajahnya kini, lucu, aneh dan unik. Tak dapat dijelaskan dengan kata2. Tertawa sendiri dalam hati, hanya bisa tersenyum tak henti, yanto membasuh diri, mandi sambil menenangkan hati dan pikiran, meyakinkan dirinya bahwa ini adalah masih bagian dari awal, nantinya masih banyak hal yang lebih seru lagi, yang akan membuat pertanyaan dalam hatinya, bisakah ia melewatinya?
070210 0050 sL@m
See more stories at slam 201080.blogspot.com

Jumat, 05 Februari 2010

HATI YANG INDAH


Kata yang indah hanya atetap kata-kata
Lukisan yang indah tak lebih dari sebuah gambar
Baju yang indah hanyalah penutup kelemahan
Tetapi hati yang indah adalah cahaya
Dimana kegelapan telah berkuasa
Sehingga kita buta ditengah siang
Meraba-raba jalan kehidupan
Tak tentu arah, tak tahu tujuan
Mari kita jadikan hati ini indah
Sehingga para kumbangpun datang tanpa diundang
Takjub akn bunga-bunga yang bertebaran
Yang tumbuh subur dalam taman jiwa
Bukan ladang tandus tak bertuan
Bukan pula gunung-gunung cadas tanpa ilalang
Apalagi padang gersang teman kematian
Aku disini mencoba menghiasi hati
Membersihkan noda-noda yang tersisa
Mengubur dalam-dalam sampah-sampah yang berserakan
Mengelap semua debu-debu keremangan
Sesuatu keindahan jangan hanya mata yang melihat
Dan jangan pula pikiran yang berkuasa yang menentukan
Gunakan nurani, agar jernih air yangmengalir dalam jiwamu
Dan hati yang indah akan tercipta dari tunas-tunas kejujuran
Membuat hijau semua yang hilang
Jadilahg tuan dalam dirimu sendiri
Jangan dikekang, jangan pula dibiarkan
Ikuti irama kehidupan dengan tarian keikhlasan
Jangan menuntut, jangan pula pasrah
Jadikan semangatmu sebagai penggerak
Ukirlah namamu dalam setiap lembaran waktu
Jagalah hatimu agar tetap indah
Karena itulah kado bagi jaman
Dimana kepalsuan talah banyak membius orang
Alam taelah rusak
Jangan rusakkan pula pikiran kita
dengan warna-warni dunia yang memabukkan
Dengan segenggam emas di lautan berlian
Coba renungkan apa yang akan kau lakukan
Bila nyawa telah separuh meninggalkan badan
Bisakah saat itu kau tenang?
Bila kemarin dan kemarinnya lagi kau mabuk senang
Hingga lupa asal usulmu yang hina
Karena kau telah terbungkus baju kesombongan
Jadi bisakah kau tenang saat dijemput kematian
Waktu yang hilang takkan bisa terulang
Walau dibeli dengan sekeranjang uang
Ataupun dengan gunung emas yang menjulang
Yang ada hanya sesal
Tak sempat menghiasi hati jadi indah
Sudahlah sekarang belum terlambat
Karena masih ada siang menggantikan malam
Sehingga hati kita masih dapat dibersihkan
Dengan kejujuran, keikhlasan, kerendahan dan ketenangan
Lalu kesabaran harus kita jemput agar ia mau ikut
Menghiasi hati ini agar indah
Sebab setelah indah orang lain akan menikmati
Orang lain akan ikut bahagia
Karena pancaran pesonanya dapat menembus tembok keangkuhan
Dan langkah kakinya dapat melompati jurang permusuhan
Ketika sang hati berkeringat dan menetes
Tetesannya akan memadamkan api dendam
Dan menghilangkan dahaga kekurangan
Mari jadikan hati kita indah
Karena memang indah hati kita
030604
sL@m

Puitis mode on

Kembali seperti tersentak, menyetrum kepalaku, tiba2 saja ribuan kata2
indah, tak kumengerti dgn ajaib langsung berada dikepalaku, menunggu
dirangkai bait demi bait, untuk mewakili perasaan hati dan perjalanan diri
yg kmrn sempat tersimpan diam.
Fase layaknya trance, seperti kesurupan, tak kuasa menghentikan kedua ibu
jariku tuk terus menekan dan menekan huruf demi huruf pada keypad hp ku.
Saatnya tiba, tuk kembali tenggelam dalam lautan kata, menyelami berbagai
terumbu yg terhampar ditiap pelosok jiwa, menghadirkannya menjadi hidangan
tiada tara, hanya para bidadari yg dapat menikmatinya
130110 1710
by, sL@m